Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Misteri Gunung Pegat Lamongan, Begini Kata Pegiat Budaya

Kawasan Gunung Pegat, yang berada di Kecamatan Babat, Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Kawasan Gunung Pegat yang meliputi Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro ini memang menyimpan begitu banyak misteri.

Bahkan, asal usul penamaan Gunung Pegat ini pun ternyata sudah ada jauh sebelum masa penjajahan Belanda.

Pegiat Budaya Lamongan, Supriyo mengakui bahwa Gunung Pegat, yang dilintasi oleh Jalan Raya Babat-Jombang ini memang telah ada jauh sebelum masa Belanda.


Pasalnya, kata Supriyo, jika merujuk pada peta-peta lama abad 18 atau abad 19, pegunungan kapur yang membentang dari arah Baureno Bojonegoro hingga ke Babat Lamongan tersebut sudah ditulis dengan nama Gunung Pegat.

“Merujuk peta-peta lama, nama Gunung Pegat ini sudah ada sejak abad 18 atau abad 19,” ujar Supriyo saat dikonfirmasi beritajatim.com, Selasa (13/9/2022).

Selain itu, Supriyo mengungkapkan, di sekitar Gunung Pegat, tepatnya di Desa Pucakwangi Kecamatan Babat ini juga ditemukan prasasti yang berasal dari masa akhir Kerajaan Airlangga hingga masa putra Airlangga.

“Di sekitar Desa Pucakwangi ini juga ditemukan pecahan keramik masa akhir Airlangga. Sehingga, dimungkinkan bahwa jalur jalan yang melintasi Gunung Pegat itu juga merupakan jalur kuno yang telah ada sejak lama,” terangnya.

Kawasan Gunung Pegat, yang berada di Kecamatan Babat, Lamongan.

Lantaran Gunung Pegat ini telah lama ada, Supriyo juga menduga, nama ‘Pegat’ yang disematkan pada gunung kapur ini bisa saja tak ada kaitannya dengan jalur jalan yang melintasi gunung kapur itu. Namun, kata itu berasal dari kata Pugawat yang kemudian berubah menjadi Pegat.

“Tidak ada kaitannya nama Gunung Pegat ini dengan pemutusan gunung atau aktivitas lainnya, karena dari dulu namanya sudah Gunung Pegat,” tandasnya.

Lebih lanjut, Supriyo menambahkan, nama Gunung Pegat itu juga bisa diartikan sebagai gunung yang menjadi pembatas atau pemisah wilayah antara Lamongan dengan Sidayu di masa silam. Pasalnya, wilayah secara administrasi di masa sekarang dengan masa dulu itu berbeda.

“Logisnya gunung ini menjadi batas wilayah atau pemegat wilayah, bukan karena aktivitas lainnya,” tambahnya.

Mengenai mitos melepas ayam di Gunung Pegat yang terjadi hingga saat ini, Supriyo menyebut bahwa hal itu juga diyakini oleh sebagian masyarakat di daerah lain yang memang memiliki penamaan serupa, seperti Gunung Pegat di Blitar maupun di Jawa Tengah.

“Ya karena waktu dulu gunung dijadikan sebagai pembatas wilayah, wajar juga jika sedari dulu ada syarat tertentu yang harus dipenuhi saat mau masuk ke wilayah lainnya. Ada semacam aturan atau tradisi yang harus dilakukan sebelum memasuki wilayah tertentu. Seiring berjalannya waktu, hal itu berkembang dan menjadi mitos yang dihubungkan dengan calon pengantin atau peristiwa lainnya,” paparnya.

Kawasan Gunung Pegat, yang berada di Kecamatan Babat, Lamongan.

Kemudian terkait keberadaan jalan yang dianggap membelah atau memisahkan antara sisi bagian barat dan timur gunung kapur ini, Supriyo menuturkan bahwa bisa saja jalan tersebut adalah jalan lama yang kemudian diperbaiki kembali pada masa Hindia Belanda.

“Kalau menurut saya, penamaan Gunung Pegat ini bukan karena gunungnya yang dipegat atau dibelah oleh jalan. Namun lebih pada gunung ini menjadi pembatas antara wilayah satu dengan wilayah lainnya,” tandasnya.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev