Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Meski PPKM, Terminal Selo Aji di Ponorogo Mulai Ramai

Setelah perpanjangan PPKM, terminal Selo Aji mulai ramai oleh penumpang. (Foto/Humas Terminal Selo Aji)

Ponorogo (beritajatim.com) – Pemerintah pusat untuk kesekian kalinya melakukan perpanjangan penerapan PPKM di kabupaten/kota di Jawa dan Bali. Terbaru PPKM berlangsung dari tanggal 19 Oktober hingga 1 November 2021. Kabupaten Ponorogo dalam perpanjangan kali ini dalam posisi PPKM level 3. Hal tersebut berdasarkan keputusan bupati PonorogoPonorogo, nomor : 188.45/1235/405.01.3/2021.

Hasil pantauan beritajatim.com, meski masih menerapkan PPKM level 3, kondisi terminal Selo Aji Ponorogo mulai ramai. Penumpang baik yang baru datang atau mau berangkat mulai hilir mudik di lokasi yang kini dikelola oleh kementerian perhubungan tersebut. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Terminal Tipe A Selo Aji Ponorogo, Eko Hadi Prasetyo. Dia menyebut dalam perpanjangan PPKM terakhir, ada peningkatan 25 persen dari hari biasanya atau awal-awal penerapan PPKM.

“Awal-awal penerapan PPKM itu terminal sepi. Saat ini terpantau ada peningkatan penumpang 25 persen,” kata Eko, Sabtu (23/10/2021).

Setelah perpanjangan PPKM, terminal Selo Aji mulai ramai oleh penumpang. (Foto/Humas Terminal Selo Aji)

Mulai tanggal 19 Oktober lalu, penumpang yang hilir mudik di terminal Selo Aji tercatat ada 2.700-an setiap harinya. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari penumpang bus antar kota antar provinsi (AKAP) dan bus antar kota dalam provinsi (AKDP). Dimana untuk penumpang AKDP mendominasi dengan 2.400 orang dan sisanya penumpang AKAP.

“Sebelumnya penumpang yang ada di terminal Selo Aji dibawah 1.000 orang,” katanya.

Dengan peningkatan jumlah penumpang di setiap harinya itu, armada yang digunakan juga menyesuaikan. Jika biasanya AKAP dibawah 10 bus yang beroperasi, sekarang sudah hampir 50 bus.

“Tentu armada menyesuaikan dengan jumlah penumpang yang ada,” ungkapnya.

Sebab untuk bus AKAP, perjalanannya relatif jauh. Jika semua armada dioperasikan, malah tidak akan bisa menutup biaya operasional.

“Kondisi saat ini kalau dibilang normal ya belum, mau ngirim penumpang juga disesuaikan dengan kebutuhannya,” kata Eko.

Eko menambahkan jika penumpang AKDP yang mendominasi adalah tujuan atau dari Surabaya. Pemberangkatan atau kepulangan dari kota Pahlawan itu pun mencapai 85 persen dari penumpang AKDP. Sisanya merupakan penumpang dari Malang, Trenggalek atau lintasan Pacitan.

“AKDP mendominasi Surabaya kemudian disusul Malang. Ada juga lintasan dari Pacitan,” pungkasnya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar