Peristiwa

Merawat Manuskrip di Masjid Kuno Peninggalan Pasukan Pangeran Diponegoro (Bagian 1)

Magetan (beritajatim.com) – Keberadaan manuskrip yang berisi tentang ragam ajaran-ajaran Islam pada masa lampau saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Misalnya banyak bagian-bagian yang sobek, lembab, berlubang, dan rapuh. Masjid kuno dan pesantren adalah salah satu tempat dimana manuskrip sering kali ditemukan.

Salah satunya Masjid kuno At-Taqwa di Dusun Godhegan, Desa Tamanarum, Magetan. Masjid yang didirikan pada sekitar tahun 1840 oleh bekas pengawal Pangeran Diponegoro itu dulu menyimpan ratusan manuskrip.

“Dulu para leluhur meninggalkan warisan berupa ratusan bundel manuskrip yang berisi ragam ajaran keislaman. Namun, kini hanya tersisa 18 bundel manuskrip saja,” kata Sesepuh Masjid At Taqwa Kiai Hamid, Senin (6/5/2019).

Manuskrip-manuskrip itu, kata Hamid berangsur-angsur hilang karena kondisi bangunan masjid yang mulai rapuh dan bocor. Sebagian bisa diselamatkan, sebagian lagi dibakar karena rusak.

Meskipun menyadari akan pentingnya manuskrip-manuskrip tersebut, Kiai
Hamid menambahkan bahwa dirinya merasa kesulitan untuk menyelamatkannya. Tidak ada perawatan khusus, selain menempatkannya di dalam lemari kayu yang diletakkan di bagian teras masjid.

“Kondisinya sekarang ya memprihatinkan,” pungkasnya.

Untuk mengantisipasi semakin meluasnya kerusakan-kerusakan itu, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Centre for the Study of Manuscript Culture (CSMC) University of Hamburg berinisiatif untuk melakukan misi penyelamatan terhadap manuskrip tersebut.

Melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA). Kedua lembaga ini bekerjasama untuk menyelamatkan isi manuskrip dengan cara mengalihkannya menjadi media digital.

”Kita tidak akan pernah bisa menduga bagaimana nasib manuskrip-manuskrip ini 10-20 tahun ke depan. Ini adalah identitas sejarah bangsa kita yang wajib untuk dirawat,” kata Pemimpin misi penyelamatan transkrip di Magetan M. Adib Misbachul Islam .

Dari 18 manuskrip tersebut, Adib menargetkan timnya akan dapat menghasilkan sekurangnya 4,000 halaman selama satu minggu sejak 23 April lalu. Melalui digitalisasi ini akan berfokus pada penyelamatan isi manuskripnya. Sedangkan untuk aspek fisik, pihaknya bekerjasama dengan para ahli preservasi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

”Setelah didigitalkan, manuskrip itu akan dimasukkan ke dalam kotak pelindung portepel yang terbuat dari bahan bebas asam. Sehingga usia
manuskrip diupayakan akan menjadi lebih panjang,” pungkasnya.(end/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar