Peristiwa

Meraih Berkah Lebaran dari Berjualan Ketupat di Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Hari ketujuh bulan Syawal juga identik dengan lebaran kupatan (ketupat). Saat itu ada tradisi di Ponorogo untuk membuat hidangan ketupat. Tak heran, jika hari-hari menjelang kupatan, banyak pedagang yang menjualnya.

Salah satunya Sulastri, penjual ketupat dadakan dari Magetan yang mencari berkah lebaran di sekitaran jalan Soekarno Hatta Ponorogo. “Sejak umur 10 tahun, tiap menjelang kupatan berjualan disini,” katanya saat ditemui beritajatim, Senin (10/6/2019).

Perempuan berumur 24 tahun itu mengungkapkan, pertama jualan karena diajak orangtua. Dan sampai sekarang tidak pernah absen berjualan ketupat. Dia mengaku hanya dalam waktu sehari semalam suntuk, mampu membawa pulang jutaan rupiah dari hasil jualan ketupat. “Jualannya ya cuma sehari semalam saja,” kata ibu satu anak ini.

Dia menjelaskan, tidak semua orang Jawa mampu membuat ketupat. Untuk membuatnya membutuhkan teknik tersendiri. Biasanya cara membuat ketupat turun-temurun diajarkan para orang tua kepada anaknya. Sulastri berangkat dari daerah asalnya membawa 2500-3000 biji janur. Proses pembuatan ketupat, dikerjakan di lapak dadakan tersebut. Sembari menjajakan janur dan ketupat. “Selama sehari semalam saya mampu membuat dan menjual sedikitnya 500 ketupat,” katanya.

Dia mengaku harga yang ditawarkan bervariasi sesuai bahan janur yang digunakan. Untuk ketupat berbahan janur berwarna hijau muda biasanya dijual dengan harga Rp 15ribu per ikat. Sedangkan ketupat berwarna hijau agak tua dijual Rp 10 ribu per ikat. Satu ikat berisi sepuluh biji ketupat. “Kalau janurnya saja Rp 8 ribu isi sepuluh biji,” ungkap ibu satu anak tersebut.

Dia mengaku tahun ini lebih sepi ketimbang tahun sebelumnya. Kareba para pemudik telah balik ke rantauan lantaran cuti lebaran telah usai. “Itung-itung melestarikan tradisi warisan leluhur. Jadi berapa pun hasilnya diterima dengan rasa syukur,” pungkasnya. [end/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar