Peristiwa

Menjawab Perubahan Iklim Melalui Kepemimpinan

Surabaya (beritajatim.com) – Perubahan iklim adalah ancaman yang masih terus menimpa manusia dan membutuhkan respon bersama dan berkelanjutan dari semua sektor. Kerjasama dan kemitraan lokal maupun global sangat penting untuk menanganinya.

Hal ini diungkap oleh Ng Boon Heong, Chief Executive Officer, Temasek Foundation, dalam Temasek Shophouse Conversations (TSC) yang diselenggarakan oleh Temasek Foundation.

Acara yang bertajuk “Climate Action” dan bertema “Leadership in a Sustainability Journey” ini Ng Boon Heong menyebutkan negara-negara akan mendapatkan banyak manfaat dari saling bertukar pembelajaran dan praktik terbaik saat mereka bergerak maju menuju keberlanjutan.

Temasek Shophouse Conversations menegaskan pentingnya aksi iklim yang lebih kuat dari berbagai sudut pandang dalam konteks lokal dan dunia. Platform ini menargetkan untuk saling bertukar gagasan dan menciptakan kesadaran yang lebih besar akan upaya terhadap lingkungan yang dilakukan baik di wilayah maupun di dunia.

“Kami yakin ini akan menginspirasi peserta untuk mengambil tindakan sesuai dengan kapasitas mereka,” imbuhnya.

Asia Tenggara adalah salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Jika dibiarkan, perubahan iklim tidak hanya memberikan efek lingkungan yang tidak bisa diperbaiki, namun juga dampak ekonomi yang sangat merugikan.

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan Asia Tenggara bisa mengalami kerugian yang lebih besar dari wilayah-wilayah lain di dunia, yang bisa menggerus 11% Produk Domestik Bruto wilayah hingga akhir abad inikarena sektor-sektor kunci seperti pertanian, pariwisata, dan perikanan bersama dengan kesehatan manusia dan produktivitas tenaga kerja yang menjadi korbannya.

Acara ini juga akan menampilkan peluncuran buku Steering a Middle Course: From Activist to Secretary General of Golkar karya Sarwono Kusumaatmadja, Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.

Buku yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh ISEAS Publishing ini menggali kehidupan Sarwono dari masa mudanya sebagai aktivis, hingga saat beliau memasuki dunia politik dan berpengaruh dalam perubahan dan reformasi tata kelola dalam administrasi publik dan lingkungan hidup.

Dalam acara ini juga ada dua diskusi panel oleh pembicara global ternama. Diskusi panel tersebut yakni Potret seorang Mahasiswa Aktivis dan Kepemimpinan di Perjalanan Menuju Keberlanjutan: Masa Depan Kita, Bagaimana, Mengapa dan Kapan.

Acara ini ditutup dengan ajakan untuk menjawab tantangan dari perubahan iklim melalui inisiatif lingkungan dan komunitas. Ajakan pertama adalah dari proyek Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Indonesia, yang menargetkan untuk menyatukan sektor publik dan swasta membentuk aliansi yang disebut Aliansi Restorasi Ekosistem Bakau/Mangrove Ecosystem Restoration Alliance, (MERA).

Dr Herlina Hartanto, Direktur Eksekutif YKAN mengatakan senang jadi bagian dari Temasek Shophouse Conversations, platform yang sangat bagus untuk melakukan diskusi penting dan mendapatkan inspirasi untuk melakukan aksi.

“Dengan semakin besarnya kesadaran dan keterlibatan sektor publik dan swasta, kami yakin bisa mencapai target restorasi 500.000 hektar ekosistem bakau pada 2025 dan mengelolanya secara berkelanjutan. Ini akan membantu mata pencaharian masyarakat pesisir dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia,” tandasnya. [rea/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar