Peristiwa

Meninggal di Kota Mojokerto, PDP Asal Jakarta Tak Terkonfirmasi Positif

Juru Bicara Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Christiana Indah Wahyu. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona (Covid-19) asal Jakarta meninggal saat menjenguk cucunya di Kota Mojokerto tidak terkonfirmasi positif Corona. Pernyataan ini disampaikan Juru Bicara Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Christiana Indah Wahyu.

“Pasien tersebut tidak terkonfirmasi (positif) Corona. Melainkan ia (pasien, red) meninggal karena memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung koroner. Karena pasien tidak kooperatif, kami mengalami kesulitan untuk pemeriksaan swab-nya,” ungkapnya melalui rilis resmi, Selasa (31/3/2020).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto menjelaskan, pasien PDP Nomor 05 yang masuk pada data Kota Mojokerto, datang pada 21 Maret 2020 untuk menjenguk cucunya di Kota Mojokerto. Saat tiba di Kota Mojokerto, PDP berjenis kelamin laki-laki berinisial HS dengan usia 57 tahun itu sebelumnya telah mengalami sakit.

“Pasien sakit dengan gejala batuk, mual, muntah, sakit kepala dengan suhu tubuh 37,8 derajat celsius. Tanggal 23 Maret, pasien ini mengalami sakit lagi dengan keluhan mual dan keringat dingin. Saat itu, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan Rontgen dan hasilnya trombosit turun, leukosit turun. Dari hasil Rontgen, tidak ada gambaran infiltrat,” jelasnya.

Pasien kemudian dirujuk ke salah satu IGD rumah sakit swasta di Kota Mojokerto pada 23 Maret 2020 dengan diagnosa demam berdarah. Saat itu, ketika petugas melakukan anamnesa (wawancara), pasien tidak berkata jujur bahwa dirinya merupakan warga Jakarta yang sedang berkunjung ke Kota Mojokerto.

“Selama pasien baru diketahui dari hasil Rontgen jika di dalam paru-parunya terdapat infiltrat. Setelah dianamnesa ulang, pasien baru jujur mengatakan riwayat tinggal di Jakarta sebelum datang ke Mojokerto. Akhirnya tanggal 27 Maret, pasien dipindahkan ke ruang isolasi. Setelah itu pada 28 Maret, paru semakin memburuk,” katanya.

Menurutnya, pihak Pemkot Mojokerto berupaya mencari rumah sakit rujukan di Surabaya, Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto, namun semuanya penuh. Sehingga pihak rumah sakit swasta tempat pasien tersebut dirawat akan melakukan pengambilan swab, namun pasien menolak dengan tegas dan tidak kooperatif kepada petugas medis.

“Pasien menolak, padahal dari hasil Rapid Rest Covid-19, pasien memiliki hasil strip dua samar-samar. Saat kami lakukan pemeriksaan sesuai standard PDP, pasien tidak kooperatif dan menolak akhirnya tanggal 29 Maret kemarin pasien mengalami penurunan kondisi dengan saturasi oksigen menurun,” tegasnya.

Tanggal 30 Maret 2020 sekira pukul 24.00 WIB, lanjut Indah, pasien dinyatakan meninggal dunia. Pasien langsung dimakamkan di Pemakaman Cina di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Indah menambahkan, proses pemulangan jenazah sesuai dengan ketentuan pemakaman seperti pasien positif Covid-19. “Yakni tim medis menggunakan APD saat melakukan proses pemulangan jenazah,” pungkasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar