Peristiwa

Mengintip Dapur Umum Banjir Jombang, Sekali Masak 2 Kuintal Beras

Ibu-ibu relawan sedang memasak di dapur umum Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Senin (8/2/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Lima orang perempuan berdiri melingkar di samping pendapa Kecamatan Bandar Kedungmulyo Jombang, Senin (8/2/petang). Mereka sibuk mengaduk-aduk potongan-potongan sayur di atas penggorengan berukuran besar.

Karena penggorengan ukuran besar, sutil yang dipakai oleh ibu-ibu itu juga berukuran besar. Bahkan ada yang mirip dayung perahu. Lagi-lagi, mereka membolak-balik sayur yang dimasak di atas penggorengan. Asap tipis mengepul dari wajan (penggorengan) raksasa itu.

Bau harum bumbu menusuk-nusuk hidung.  Gesekan sutil dan wajan terdengar samar-samar, kalah keras dibanding suara kompor. Dari dalam wajan itu terlihat sayur kubis, irisan kentang, buncis, wortel, yang sudah mulai layu. Sementara di bawah penggorengan itu, api berwarna biru terus menyembur.

Salah satu dari perempuan itu kemudian mengambil sejumput sayur melalui ujung sutil, lalu meniupnya, dan mencecap rasanya. “Sudah matang. Sudah pas bumbunya. Tidak terlalu asin, juga tidak terlalu pedas. Hari ini kita masak oseng-oseng,” kata Li’illah (34), salah satu relawan yang ada di dapur umum.

Lima perempuan itu kemudian mengangkat sayuran yang sudah matang. Memindahkannya ke wadah yang lebih besar. Selain kompor untuk memasak sayur, di dapur umum itu juga terdapat delapan kompor gas lainnya. Semua menyala secara bersama-sama. Semuanya berukuran besar.

Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab didampingi Camat Bendar Kedungmulyo Mahmudi saat ,meninjau dapur umum, Jumat (5/2/2021)

Maklum saja, selain memasak sayuran, para relawan dari Dinas Sosial (Dinsos) Jombang ini juga menanak nasi, mengolah lauk. Karena dari dapur itulah makanan untuk para pengungsi dikendalikan. Dari dapur umum itulah nasi bungkus untuk korban banjir didistribusikan.

Di tengah ibu-ibu memasak, Asya’ari, relawan lainnya sedang menunggui nasi yang sedang ditanak. Panci warna silver setinggi 1 meter nongkrong di atas kompor. Api warna biru menyembur-nyembur dari mulut kompor.

Panci ukuran besar itu kapasitasnya untuk memasak 30 kilogram beras. Sedikitnya 5 panci yang ditata sedemikian rupa di dapur umum tersebut. Semuanya digunakan untuk memasak nasi guna mencukupi kebutuhan pengungsi.

“Idealnya, 25 kilogram beras, menjadi 250 nasi bungkus. Kita hanya memasak, yang membungkus ibu-ibu PKK di posko utama bencana banjir ini. Nah, waktu hari pertama kemarin, 25 kh beras, tidak sampai 100 nasi bungkus. Ukurannya jumbo,” kata Asy’ari yang didapuk menjadi peracik bumbu di dapur umum tersebut.

Ribuan Nasi Bungkus

Penanggung jawab dapur umum itu adalah Kepala Seksi Perlindungan Korban Bencana Alam dan Bencana Sosial Dinsos (Dinas Sosial) Jombang Gunadi. Oleh karena itu, sejak banjir menerjang, Gunadi berkantor di dapur umum Kecamatan Bandar Kedungmulyo.

Gunadi menjelaskan, di dapur umum tersebut terdapat 36 relawan. Masing-masing dibagi menjadi dua shift. Untuk shift satu, mulai pagi hingga jam delapan malam. Sedangkan shift dua, mulai pukul delapan malam hingga pagi. Tiap-tiap shift terdiri dari 18 orang.

Dalam sekali masak, kata Gunadi, dapur umum tersebut menhabiskan dua kuintal beras. Dalam sehari bisa dua hingga tujuh kali masak. Sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Beras yang sudah dimasak itu kemudian diberi sayur dan lauk, lalu dibungkus.

“Bukan hanya nasi, tapi juga pakai sayur dan lauk. Lauknya kita bikin bervariasi, ada telur dan daging ayam. Senin pagi kemarin kita distribusikan 2000 nasi bungkus. Rata-rata sekali masak, dua kuintal beras. Kemudian sorenya 500 bungkus,” kata Gunadi merinci.

Masak nasi yang paling banyak adalah Sabtu (6/2/2021) kemarin, yakni ketika banjir sedang besar-besarnya. Ribuan warga mengungsi. Makanan menjadi kebutuhan utama. Saat itulah dapur umum memasak beras satu ton lebih.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau dapur umum di Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Sabtu (6/2/2021)

“Sabtu kemarin, total 16.000 nasi bungkus dengan jatah dua kali penyaluran. Kami menghabiskan beras 1 ton lebih dalam sehari. Sebanyak 16 kali masak. Karena memang jumlah pengungsi mencapai 8000 jiwa,” kata Gunadi.

Namun mulai Senin (8/2/2021), jumlah nasi bungkus yang dibagikan untuk pengungsi berkurang. Hal itu karena di titik-titik pengungsian, sudah didirikan dapur umum sendiri. Selain itu, banyak pengungsi yang kembali ke rumah, karena banjir mulai surut.

Sehingga, lanjut Gunadi, saat ini nasi bungkus yang disalurkan dapur umum Kecamatan Bandar Kedungmulyo 2000 dalam sehari. “Padahal sebelumnya dalam sehari kita distribusikan 16 ribu nasi bungkus. Karena ada desa yang banjirnya sudah surut, seperti di Gondangmanis,” kata Gunadi.

Asap mengepul tipis dari tenda dapur umum, harum bumbu yang digoreng menusuk-nusuk hidung, belasan relawan yang ada di dapur umum itu masih saja sibuk. Mananak nasi, menggoreng lauk, memasak sayur, sembari berharap banjir segera surut. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar