Peristiwa

Mengenali Kelainan Seksual Fetisisme dan Sado Masokis, Ternyata..

Surabaya (beritajatim.com) – Kelainan seksual banyak terjadi di sekitar kita, bahkan beberapa di antaranya merugikan orang sekitar dan membawa korban. Hangat pula dibicarakan pelecehan seksual yang disebut sebut sebagai fetisisme.

Sebenarnya apa itu fetisisme? Ike Herdiana, M Psi Psikolog dari Help Center Universitas Airlangga (Unair) mengatakan bahwa Fetisisme adalah ketertarikan yang kuat secara seksual pada benda mati atau bagian tubuh yang secara anatomis tidak dipandang sebagai stimulus seksual. Juga disertai dengan gangguan atau tekanan yang signifikan.

“Jadi fetish ini bisa saja ‘normal’ selama tidak mengganggu fungsi seksual dan sosial. Artinya tidak merugikan dan menyakiti orang lain, tetapi digunakan sebagai fantasi seksual untuk keuntungan bersama-sama pasangan,” ujar Ike, kepada beritajatim.com, Kamis (30/7/2020).

Lantas bagaimana Fetisisme kemudian dilakukan kepada orang lain dan menimbulkan konotasi pelecehan seksual bisa terjadi? Ike menjelaskan, dalam beberapa kasus, jika pelaku fetisisme kemudian membahayakan atau melecehkan orang lain maka pelaku sudah dikategorikan sebagai orang dengan gangguan mental. “Jika hal itu merugikan orang lain atau pasangan ya berarti sudah dikatakan gangguan,” tukas Ike.

Dirujuk dari Buku Diagnostic and Statiscal of Manual of Mental Disorder memiliki ciri ganguan mental fetisisme, pertama; untuk jangka waktu setidaknya 6 bulan, orang tersebut memiliki fantasi berulang dengan melibatkan benda mati atau bagian tubuh nongenital.

Kedua, fantasi, dorongan seksual, perilaku tersebut menyebabkan tekanan signifikan dan mengganggu fungsi sosial pekerjaan atau pribadi. Kemudian ketiga menggunakan benda-benda yang bukan untuk stimulasi genital, untuk memuaskan dorongan seksnya.

Ike juga mengatakan bahwa kasus pelecehan seksual yang sedang viral saat ini (merujuk pada kasus bungkus membungkus), tidak bisa serta merta disebut fetisisme. Karena labelisasi kelainan seksual pada seseorang harus berlandaskan diagnosa dan investigasi para ahli.

“Bungkus membungkus jelas tidak lazim dalam pandangan kita untuk dikaitkan dengan seksualitas, dan belum tentu juga tergolong fetish. Kalau melihat definisi di atas jelas bahwa ketertarikan fetis pada benda kaitannya dengan seksualitas, dan hal tersebut harus disimpulkan melalui asesmen. Bagaimana kalau membungkus itu bukan untuk tujuan seksual? Kan malah makin jauh dari karakteristik fetish?” ungkap Ike.

Namun jika benar kegiatan bungkus membungkus tersebut merupakan modus untuk mendapatkan fantasi seksual, maka tetap tidak dibenarkan, meskipun tidak terjadi sentuhan secara fisik. Dalam beberapa kasus yang lain juga banyak modus ekstrem dalam upaya mendapatkan fantasi seksual, bisa dengan mencekik leher sendiri atau pasangan dan mencambuk dan sebagainya.

“Semua yang terkait dengan kelainan akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain atau merugikan. Artinya yang bersangkutan harus diperiksa dan diberikan pengobatan/perawatan/terapi/intervensi yang sesuai,” tukasnya.

Ike menambahkan pada realitasnya fantasi seksual bisa dipenuhi dengan cara tersebut, sekali lagi asalkan ada kesepakatan, tidak saling menyakiti dan sama sama menimbulkan rasa senang dan mendukung orgasme bersama.

“Tapi bisa berbahaya sekali jika dilakukan secara sembrono, tanpa mengindahkan rasa sakit dan lain-lain. Ada istilah sado masokis untuk menjelaskan sifat menyakiti pasangan sebelum melakukan hubungan seksual. Salah satunya dengan mengikat badan pasangan bahkan lebih jauh tindakan menyakitinya,” pungkas Ike. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar