Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Mendengar Suara Korban Pelebaran Jalan Frontage Wonokromo Surabaya

Sugeng saat menyaksikan bangunan miliknya digusur (Foto oleh Ade Mas Satrio, beritajatim.com)

Surabaya (beritajatim.com) – Penggusuran bangunan milik warga di Jalan Wonokromo menyisakan banyak cerita. Walaupun sudah disosialisasikan dan sepakat, kesedihan tetap tak bisa disembunyikan.

Ditemui di lokasi kejadian oleh beritajatim pada Senin (18/10/2021), salah satu warga bernama Sugeng (53) mengungkapkan kesedihannya. Pria yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1970-an itu menjelaskan bahwa ia sudah pasrah.

Dia sempat memproses bangunannya dengan biaya pribadi. Tetapi karena terkendala biaya ia akhirnya menerima rumah yang juga jadi warung nasi miliknya dirobohkan demi pelebaran jalan Frontage Wonokromo.

“Saya sudah siap-siap dengan biaya sendiri. Tapi karena kendala juga akhirnya ya sudah pasrah dirobohkan kan juga sudah sepakat dan dapat ganti rugi,” ujar Sugeng saat ditemui beritajatim.

Ia bercerita bahwa dirinya telah menempati rumah tersebut sejak kecil. Menurutnya, rumah tersebut memiliki nilai historis yang mengantarkan ia hidup. Ia pun sempat meminta waktu tambahan agar bisa merapikan rumahnya sendiri.

Ditanya soal harapannya kepada pemerintah kota ia hanya bisa pasrah. “Wes ga onok harapan, pokoe lancar, gawe kepentingan dalan soale. Saya sudah Minta tambahan waktu, tempo waktu. untuk membenahi rumah tapi sudah sosialisai. Ya disayangkan. Kecuali uang ganti rugi diberikan dahulu untuk memperbaiki rumah,” imbuhnya sambil membersihkan puing-puing rumah.

Ia pun sempat berkelakar bahwa orang kecil seperti dia hanya bisa pasrah menerima keadaan. Menurutnya, apa yang ia ikhlaskan adalah untuk kepentingan umum.

“Semuanya sudah bangunan, kalau beberapa sudah beserta tanah karena memiliki SHGB. Saya dapet Rp 290 juta. Gak popo lah, sabar. Sing sugih pangeran, sing mlarat awak dewe,” pungkasnya. [ang/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar