Peristiwa

Meliput di Tengah Demo Aliansi Mahasiswa, Pelajar dan Buruh Tolak Omnibus Law

Surabaya (beritajatim.com) – Aksi demo tolak UU Omnibus Law membawa cerita bagi para jurnalis yang meliput termasuk jurnalis media online beritajatim,com.

Begitu juga yang dirasakan jurnalis beritajatim.com Manik Priyo Prabowo yang harus meliput aksi demo yang dilakukan buruh, mahasiswa dan pelajar ini.

Baginya, saat itu kondisi demo jelang tengah hari masih kondusif. Pihak kantor pun masih menempatkan tiga titik untuk 8 jurnalis yang bertugas di Surabaya. Dua jurnalis di kantor DPRD Jawa Timur, 2 jurnalis di kantor Gubernur dan empat jurnalis di kantor Balikota hingga Gedung Grahadi.

Kami pun masih sedikit tenang karena hingga sekitar pukul 11.45 WIB menulis berita massa berdatangan. Hingga sekitar pukul 13.30 WIB massa mulai menunjukkan aksinya. Pagar kawat berduri mereka tarik dari depan gerbang yang dikenal sebagai gedung Negara di Surabaya ini ke tengah Jalan Gubernur Suryo.

“Dari penarikan kawat ini para jurnalis yang sedang menulis dan mengisi batre ponsel di Warkop langsung bergerak. Banyak yang kembali ke Grahadi melanjutkan liputan,” jelasnya, Minggu (11/10/2020).

Benar usai menarik kawat berduri, massa yang terdiri anak muda dan Anak Baru Gede (ABG) ini pun masuk ke area dalam kawat. Mereka mulai mengarah ke pintu gerbang Grahadi sisi barat. Tak lama kemudian gerbang besi hitam ini  ambruk karena massa pelajar dan mahasiswa ini menggoyang-goyangkannya.

Sampai disitu massa masih terkendali lantaran setidaknya sejam Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Eddizon Isir bersama Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo dan jajaran duduk bersama massa.

Massa mencoba berunding dan menyampaikan aspirasi ke pihak kepolisian. Hanya saja perundingan pun tak menuai titik temu karena massa minta ditemui pejabat seperti Gubernur Jawa Timur, Khofifah atau Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

“Nah pas Kapolrestabes berlalu dari pintu gerbang massa mulai bringas. Fasum tong sampah dibakar dan dilempar, kamera pengawas (CCTV.red) dilepas dan lampu penerangan taman Grahadi juga dirusak. Sampai akhirnya pintu gerbang sisi timur mulai digoyang-goyang dan ambruk. Polisi baru menembakkan gas air mata sampai mengejar massa dan menangkapnya,” lanjut ayah satu anak ini.

Pagar Grahadi Ambruk… Live aksi tolak UU Omnibus Law di Grahadi.Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Eddizon Isir temani massa sejam duduk di pagar besi.Bersama Reporter Manik Priyo Prabowo

Dikirim oleh Beritajatim.com pada Kamis, 08 Oktober 2020

Pecah, ricuh dan anarki. Begitulah kondisi kawasan Gedung Grahadi saat massa mahasiswa dan pelajar terpengaruh provokasi kelompok Anarko ini. Polisi pun mendesak massa ke belakang dan pecah menjadi tiga kelompok. Massa satu terkumpul di Jalan Pangsud, Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pemuda.

Sedangkan massa ke dua berada di titik Taman Apsari. Yang terakhir kelompok masa ke tiga berada di Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Tunjungan. Karena terpecah massa yang emosi lantaran rekannya tertangkap dan kena lemparan gas air mata pun semakin bringas.

“Nah pas massa di kawasan Jalan Yos Sudarso ini saya ingat kalau istri saya yang hamil 6 bulan masih di kantor. Pas kebetulan juga jam pulang kerja, jadi saya ijin kantor tuk jemput istri dan mengevakuasinya. Tanpa basa-basi bos memberikan ijin dan langsung saya jalan ke kantor Bank Panin di Jalan Kombes Pol M Duryat,” lanjutnya.

Usai sampai di kantor sang istri pun langsung ia antar pulang. Saat itu massa banyak berkumpul dan melempari batu di sekitar Jalan Yos Sudarso. Melalui jalan tersebut mereka mencoba berjalan menaiki motor dengan pelan. Rasa takut istri kena batu atau benda padat lainnya tersirat. Namun massa memberikan jalan dan perjalanan menuju ke Jalan Embong Gayam hingga Jalan Panglima Sudirman pun lancar.

Meski banyak massa, mereka terkesan sadar bahwa jalan tersebut memang dipakai buat jalur evakuasi pengendara. Sehingga massa tak menghentikan atau melakukan tindakan anarki. Sesampainya di Jalan Panglima Sudirman (Pangsud), lelaki perawakan kecil ini pun turun. Ia  kembali melanjutkan liputan di pusat kerusuhan sekitar Gedung Grahadi.

“Nah pas istri pulang naik motor saya kembali ke Grahadi jalan kaki. Iseng saya melewati kawasan air mancur pusat krumunan massa. Sampai pada krumunan petugas menembakkan lima gas air mata dan mengejar massa. Karena saya bukan pendemo ya gak lari, eh saya dipiting polisi dikiranya massa anarki,” cetusnya.

Beruntung jurnalis yang sudah 12 tahun menulis ini memakai seragam media. Sehingga polisi yang memiting pun bisa dengan cepat menerima penjelasannya. Cengkraman tangan dan kekuatan lengan pun langsung kendor usai petugas mengetahui bahwa yang ia amankan adalah jurnalis.

Meski kena gas air mata berkali-kali, mengamankan istri dan tertangkap polisi. Lelaki kelahiran Grobogan, Jawa Tengah ini pun bangga karena video live karya ditonton hampir dua juta kali oleh netizen dan diklik hampir sejuta kali. Bahkan Kapolrestabes Surabaya dan Wakapolrestabes Surabaya memberikan selamat secara personal.(man/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar