Peristiwa

Masyarakat Mojokerto Dihimbau Waspadai Hidrometeorologi

Warga membersihkan Sungai Ledeng di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto beberapa hari lalu. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (GMKG) Surabaya, kondisi Jawa Timur termasuk Kabupaten Mojokerto diperkirakan memasuki perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim penghujan. Musim penghujan dapat memicu terjadinya hidrometeorologi.

Seperti bencana tanah longsor, banjir, angin kencang maupun bencana pancaroba seperti angin puting beliung serta beberapa faktor dari lingkungan yang tak terawat dengan baik. Ahli fungsi hutan, kebakaran hutan dan lahan serta budaya masyarakat membuang sampah sembarangan.

Kepala Pelaksana adan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, dengan prakiraan cuaca dari BMKG Surabaya, masyarakat Mojokerto dihimbau mewaspadai beberapa hal ini. “Karena Kabupaten Mojokerto memiliki beberapa wilayah topografi pengunungan,” ungkapnya, Selasa (12/11/2019).

Masih kata Zaini, wilayah dengan topografi (bentuk permukaan bumi, red) pegunungan yang rawan terhadap bencana longsor dan banjir bandang. Yaitu Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang dan Jatirejo. Selama musim kemarau 2019, area hutan di wilayah Kabupaten Mojokerto terjadi kebakaran seluas 851,9 hektar.

“Ini berpotensi menimbulkan terjadinya bencana banjir dan longsor pada musim penghujan tiba karena terbakarnya vegetasi hutan menyebabkan akar pepohonan tidak lagi cukup kuat untuk menahan curang hujan. Pohon yang rata-rata berusia tua pada saat musim penghujan berpotensi tumbang,” katanya.

Ketika terjadi angin kencang, lanjut Zaini, dapat membahayakan masyarakat yang melintas di bawahnya. Ditambah sungai di wilayah Kabupaten Mojokerto ditumbuhi semak dan sampah pada musim kemarau sehingga berpotensi meluap dan menimbulkan bencana banjir ketika musim penghujan datang. [tin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar