Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Masyarakat Diimbau Waspada Hadapi Bencana di Musim Hujan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Tanda-tanda pergantian musim mulai terjadi. Untuk mengantisipasi adanya korban, masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan peka terhadap adanya tanda-tanda perubahan musim tersebut. Seperti diantaranya yang terjadi Minggu (10/10/2021). Angin kencang mengakibatkan satu rumah roboh di Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro Zaenul Ma’arif mengatakan, agar semua pihak, termasuk masyarakat, ikut berpartisipasi dalam peningkatan kewaspadaan untuk meminimalisir korban jiwa saat terjadinya bencana. Terlebih, di kawasan hutan lindung dan daerah aliran sungai (DAS), kondisinya saat ini cukup memprihatinkan.

“Ada beberapa bencana yang sering terjadi di Bojonegoro pada saat musim hujan, yakni banjir bandang dan banjir luapan air sungai, angin kencang, erosi dan kebakaran akibat korsleting listrik,” ujarnya saat mengikuti diskusi Kelas Bebas Terbuka di Angkringan Kopi Tani, Sabtu (2/10/2021).

Selain itu menurut Arif, secara geologis, wilayah Bojonegoro selatan dan utara termasuk dilewati sesar zona Kendeng. Kawasan yang dilalui sesar kendeng tersebut sebagian besar merupakan kawasan hutan. Sehingga musti diwaspadai potensi bencana gempa ataupun bencana likuifasi di wilayah Bojonegoro tersebut.

Terkait persoalan kebencanaan di daerah, ia tidak menampik bahwa kawasan hutan, utamanya hutan lindung serta kawasan daerah aliran sungai (DAS) di wilayah Bojonegoro selatan, banyak yang kondisinya saat ini cukup kritis. “Luasan tanaman tutupan hutan dan DAS semakin minim. Hal ini berpotensi menyebabkan bencana, seperti erosi, longsor dan kekeringan,” terang Arif.

Menurut Arif, kondisi pohon tutupan lahan di kawasan hutan dan DAS yang semakin berkurang, hal ini berdampak pada, salah satunya penurunan tingkat tangkapan air hujan dalam tanah. Dan dalam jangka panjang, ini dapat mengakibatkan krisis ketersediaan sumber air dalam tanah.

“Jaman dulu, kita masih banyak menemukan sumber air dangkal dengan kedalaman 8-10 meter. Sekarang sumber air tanah, kebanyakan dengan kedalaman 60-an meter atau disebut sumber air dalam,” ujarnya.

Pria yang pernah lama bekerja sebagai pegawai di Kecamatan Sekar ini bercerita, pada jaman dahulu banyak “sendang” yang banyak dimanfaatkan oleh warga masyarakat. Kini banyak sekali sumber air di sendang yang mengering dan hilang. Selain itu, lanjut dia, beberapa gowa yang ditemukan di Bojonegoro, kondisinya berbeda dengan kebanyakan gowa yang ditemukan di Tuban.

Menurutnya, gowa menunjukkan bahwa dulu ada aliran sungai di dalam tanah. “Gowa yang ditemukan di Bojonegoro, semua kondisinya kering. Kalau Gowa yang di Tuban, kebanyakan basah, ada rembesan air, ini menunjukkan lingkungan sekitar masih baik, masih banyak pohon-pohon,” tutur Arif, bercerita.

Sementara itu terkait kondisi hutan di Bojonegoro, Putut Prabowo, pegiat Pengalasan Songo yang ikut hadir dalam diskusi mengungkapkan, bahwa mayoritas hutan di Bojonegoro adalah hutan produksi, sedangkan luasan hutan lindung kurang dari 10 persen saja. Inipun dengan catatan, kondisi hutan lindung di Bojonegoro saat ini sedang mengalami degradasi, seperti luasan pohan tutupan lahan hutan yang semakin minim dan terus berkurang.

Menurut catatan Putut, ada beberapa temuan mengenai kendala upaya rehabilitasi hutan di Bojonegoro. Salah satunya, dan ini jadi kendala terbesar, adalah karena mengenai status kelola hutan yang berada di bawah domain Perhutani. Hal ini menyebabkan para pemangku kepentingan lain, seperti pemerintah daerah, pihak swasta, korporasi ataupun lainnya, tidak bisa memasukkan program-program rehabilitasi maupun konservasi kawasan hutan.

“Karena konservasi hutan hanya menjadi kewenangan Perhutani saja,” tutur Putut, nama panggilan akrabnya.

Oleh sebab itu Putut berharap, ada terobosan kebijakan maupun program yang dapat menjembatani kemandegan ini. Ia mencontohkan, misalnya melalui skema Perhutanan Sosial, yang memungkinkan program-program bantuan, baik dari Pemerintah Daerah maupun Swasta, yang bisa dialirkan dengan dasar bantuan ke masyarakat desa hutan. Bukan ditujukan ke Perhutani.

Sekadar diketahui, dalam sesi tersebut kelas diskusi Kampus Bebas Terbuka mengambil tema #BULANHUJAN, Tentang Kebencanaan dan Tata Ruang. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh sejumlah aktivis yang diharapkan Kampus non formal ini bisa menjadi ruang diskusi pemikiran dan adu gagasan. Kampus terbuka tersebut sehingga bebas diikuti oleh siapa saja dan dari latar belakang apa saja. [lus]


Apa Reaksi Anda?

Komentar