Peristiwa

Masuki Musim Hujan, Waspadai Rekahan Tanah Rawan Longsor

Ketua Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) Bojonegoro, M Nurcholis

Bojonegoro (beritajatim.com) – Memasuki musim hujan beberapa wilayah di Kabupaten Bojonegoro perlu mewaspadai adanya kerawanan bencana. Salah satunya daerah perbukitan yang tanahnya merekah akibat musim kemarau. Rekahan tanah tersebut rawan menyebabkan terjadinya longsor karena terisi air saat hujan.

“Akibat rekahan tanah itu cakupan sabuk tanah antar lainnya lepas, sehingga rawan longsor. Apalagi jika di sekitar tanah rekahan itu tidak ada pohon,” ujar Ketua Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) Bojonegoro, M Nurcholis, Senin (4/11/2019).

Selain tanah longsor, saat memasuki peralihan musim seperti saat ini, bangunan tegakan, seperti tiang baliho, tiang listrik, maupun tugu, juga perlu diwaspadai. Hal itu karena dalam siklus pergantian musim, selain angin kencang saat hujan juga pegangan tanah terganggu.

“Daerah selatan Bojonegoro rawan longsor, karena jenis tanahnya batuan (Litologi) dominasi napal, lanau, lempung, tuff, batu pasir tuffaan, dan gamping berlapis,” ujarnya.

Sementara hasil mitigasi yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menyebutkan, kawan rawan longsor akibat kondisi geologi, topografi, litologi (batuan) ada 86 Desa di 18 Kecamatan.

Adalah Kecamatan Baureno, Bubulan, Dander, Gondang, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Sekar, Sugihwaras, Tambakrejo, Temayang, dan Kecamatan Trucuk.

Sedangkan, kawasan rawan longsor di wilayah sungai ada 113 desa di 20 kecamatan. Yakni, Kecamatan Ngraho, Padangan, Kasiman, Purwosari, Malo, Kalitidu, Dander, Trucuk, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, Baureno, Sumberrejo, Ngasem, Gayam, Sugihwaras, Kedungadem, Sukosewu, dan Kecamatan Kepohbaru. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar