Peristiwa

Masjid Apung Terseret ke Lautan Pacitan Berhasil Dievakuasi

Sebuah masjid berada di tengah lautan pantai Pancerdoor Pacitan

Ponorogo (beritajatim.com) – Masjid apung yang terseret ke tengah lautan Pacitan sudah berhasil dievakuasi. Proses evakuasi menggunakan perahu oleh 4 personel dari tim TRC BPBD Pacitan.

“Proses evakuasi masjid ke bibir pantai tadi memerlukan waktu sekitar 2 jam,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan Dianita Agustinawati.

Selain dari tim BPBD yang berada di perahu, relawan yang ada di darat juga banyak yang membantu. Mulai dari Satpol PP, relawan off road, PSHT, nelayan, dan surfing club. “Jadi di laut yang di perahu ada 4 orang. Sedangkan yang di darat banyak relawan yang juga ikut membantu proses evakuasi,” katanya.

Petugas cukup mengalami kesulitan dalam proses evakuasi, karena gelombang saat itu agak tinggi. Selain itu, dari kemarin hujan terus, sehingga menyebabkan aliran air sungai Grindulu yang ke laut cukup tinggi. Saat ini masjid apung tersebut masih berada di bibir pantai. “Kami menunggu air laut pasang dulu, baru masjid tersebut kita kembalikan ke tempat semula,” ungkap Dian panggilan karib Dianita Agustinawati.

Secara umum, masjid itu masih tuh. Kerusakannya tidak parah, hanya tirai-tirai bambu yang berada di kanan kiri ada yang copot. Kalau air sudah pasang akan dikembalikan ke tempat semula yakni di muara sungai Grindulu. “Pemilik masjid ini Gus Fuad dari Ponpes Tremas Pacitan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, sebuah masjid berada di tengah lautan pantai Pancerdoor Pacitan. Ya tempat ibadah itu merupakan masjid apung yang selama ini ada di perairan sungai Grindulu. “Itu masjid apung, karena tali penahan putus jadi terseret ke tengah lautan,” kata salah satu pengurus masjid, Ryan Yudianto, Rabu (10/2/2020).

Kejadian putusnya tali itu, kata Ryan terjadi pada Rabu dini hari sekitar pukul 02.30 pagi. Beberapa hari ini, Pacitan turun hujan dengan intensitas sedang sampai deras. Sehingga membuat arus sungai Grindulu menuju laut juga deras. Selain itu, keadaan sungai juga banyak sampah yang hanyut. “Tekanan air bercampur sampah itu membuat rakit masjid dan tali menjadi kencang dan akhirnya putus,” katanya.

Derasnya air sungai Grindulu itu juga membuat posisi masjid bergeser dalam beberapa hari terakhir. Dan puncaknya pada Rabu dini hari tersebut. Ryan menyebut masjid apung tersebut terseret kurang lebih sejauh 1 kilometer dari bibir pantai. (end/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar