Peristiwa

Masa Tanggap Darurat Banjir Jember Berakhir

Jember (beritajatim.com) – Masa tanggap darurat banjir di Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, sudah berakhir. Banjir terjadi setelah tanggul sungai jebol.

“Posko utama sudah kami tarik, kami pindah ke kantor BPBD. Namun tetap ada nomot telepon yang bisa dihubungi dan cuaca masih tetap kami pantau selama Januari ini,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember Rasyid Zakaria, Senin (7/1/2019).
Masa berlaku surat kedaruratan yang diterbitkan Bupati Faida pada 25 Desember juga sudah habis pada 31 Desember 2018 lalu. “Jadi sekarang sudah normal seperti sedia kala. Penanganan di kecamatan lain sudah dilaksanakan baik. Tinggal menunggu kawasan longsor yang belum terdeteksi, apakah wilayah hutan, sungai provinsi, atau lainnya,” kata Rasyid.
Namun anggota Komisi D DPRD Jember Agus Sofyan meminta, agar ada evaluasi terhadap penanganan bencana di Desa Kraton, Kecamatan Gumukmas, dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. “Bencana itu kebetulan di desa saya, Kraton, yang merupakan bencana rutin. Ini kondisi yang sangat memprihatinkan,” katanya.
Agus membenarkan, jika upaya untuk memperkuat tanggul sungai sudah dilakukan agar tak jebol dan menimbulkan banjir. “Cuma kadang proses pembenahannya kadang kurang pas. Contohnya, ketika tanggul ditinggikan, bukan bibir sungai yang ditarik tapi sepanjang tepian tanggul yang tanahnya seperti diangkat. Ini menyebabkan ketika ada air besar, seperti ada sungai baru lagi,” katanya.
Menurut Agus, permasalahan dulu penyempitan terjadi di Sungai Bondoyudo yang di sekitarnya didirikan bangunan untuk tambak. “Tapi setelah terbelahnya Jalur Lintas Selatan, debit air masih tinggi. Bahkan menurut teman-teman, ketika tanggul jebol, ketinggian air sampai 350 (centimeter). Ini luar biasa. Tidak menutup kemungkinan, ketika debit air seperti kemarin, kemungkinan jebol (semakin luas) ke wilayah timur sungai sangat memungkinkan, kalau curah hujan masih tinggi,” katanya.
“Bisa dibayangkan. Sungai itu mengalir di atas pemukiman warga. Kalau meluber di atas tanggul ya seperti gelombang yang digerojokkan dari atas ke bawah,” kata Agus.
Agus memuji proses evakuasi yang berjalan baik saat penanganan banjir kemarin. “Alhamdulillah sekarang tanah di bantalan sungai tidak tergerus seperti lima tahun lalu. Kalau tergerus, ini proses pembenahan akan memakan waktu cukup panjang,” kata politisi PDI Perjuangan ini.
Agus memuji proses penanganan bencana dan partisipasi semua elemen. “Cuma distribusi (logistik bantuan) kadang kurang bisa merata,” katanya.
Selain memuji, Agus juga mengaku sangat kecewa terhadap Rasyid Zakaria. “Spontanitas. Selaku orang yang terdampak bencana dan punya tanggung jawab di sana, saya SMS dan telepon langsung. Setelah saya berkomunikasi, beliau luar biasa sibuk,” katanya.
“Saya mengontak, maksudnya ini kondisi darurat. Saya tidak akan minta-minta (fasilitas). Saya hanya ingin koordinasi. Jawabnya: sibuk, rapat, sibuk, rapat,” sergah Agus.
Rasyid Zakaria meminta maaf jika penanganan banjir tempo hari dianggap kurang memuaskan. “Saya mungkin khilaf. Saat banjir jam 12 malam saya di lokasi bersama petugas Unit Pelayanan Teknis. Jam setengah enam, saya di pinggir sungai bersama Kasdim (Kepala staf Distrik Militer). Jangankan camat, kepala desa tidak ada. Saya sendirian, anggota TNI lima orang. Saya tahu betul perilaku tangkis (tanggul) itu, karena yang bikin saya. Delapan kilometer di sisi kiri dan delapan kilometer sisi kanan sungai pada 2008 waktu saya Kepala Dinas Pengairan,” katanya. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar