Peristiwa

Liputan Khusus

Masa Pandemi, Sejumlah ABG di Surabaya Nikah Dini

foto/ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Banyak cara predator perusak generasi muda calon penerus pahlawan bangsa. Salah satunya adalah melalui pesan grup WhatsApp, tak perlu kode, syarat atau bahkan cara khusus untuk bergabung ke grup.

Banyak link atau alamat laman internet yang bisa diperoleh untuk bergabung ke grup WA. Begitu juga grup WA pembagi konten foto, stiker dan film dewasa.

Kondisi ini membuat para pelajar baik siswa atau siswi bergabung. Terlebih umuran anak SMP dan SMA banyak rasa ingin tahu akan semua hal. Ketika semua dijejali dengan konten prono, maka para pelajar ini pun belajar melakukan reproduksi manusia lebih mendalam di usia dini. Bisa jadi kondisi ini yang mendesak perkawinan dini di masa pandemi virus corona.

Seperti yang kita dengar di Nusa Tenggara Barat (NTB) banyak pernikahan dini di usia SMP dan SMA karena proses belajar daring. Proses bejalar melalui saluran internet ini pun mendesak para pelajar untuk intens dengan ponsel pintarnya.

Tidak usah jauh-jauh ke NTB, Surabaya pun juga terdapat pernikahan dini selama pandemi virus ini seperti misalnya di SMP Negeri di  wilayah Surabaya Timur kehilangan calon generasi penerus.

Padahal pasutri yang harusnya belajar untuk meraih cita-cita tapi lebih memilih jalur menikah. Tak ada kerjaan mereka hanya menghabiskan waktu bersama, bercanda dan bebas hidup bersama usai resmi jadi pasutri.

“Awalnya saya sering melihat film dan gambar itu dari media sosial di Instagram dan Facebook. Tapi setelah ada link bergabung ke grup atau komunitas berbagi film dewasa saya ikut saja,” jelas DW (15) bukan inisial sebenarnya gadis belia asal Surabaya ini.

DW yang baru menikah kurang dari sebulan ini pun juga mengaku saat bergabung ke grup WA sehari bisa 10 sampai 20 film lebih dibagikan. Tak hanya admin grup yang membagikan, banyak para anggota grup yang sharing atau berbagi. Tujuannya untuk saling bertukar film.

Dari grup itulah yang membuat DW harus memperoleh pikiran dewasa, melihat film dewasa dan mempengaruhinya tuk lakukan itu juga. Sampai akhirnya iya ketahuan orangtuanya karena sering pergi malam, berkomunikasi hal dewasa dengan rekan lawan jenisnya.

Foto ilustrasi.

“Ya akhirnya saya nikah saja. Kami sudah sah kok,” cetus siswi SLTP Negeri kelas IX ini.

Lain hal buat Ist gadis Anak Baru Gede (ABG) ia mengaku meski sering diganggu predator seksual tapi bisa menolak. Bahkan kepada beritajatim.com ia mengaku sering kali marah dan mengancam pelaku dengan melaporkan chat pelaku ke orangtua.

Hal itu ia lakukan karena orangtuanya meminta jika ada yang mengganggu termasuk mengirim gambar dewasa harus dilaporkan. Jika tidak maka dirinya sendiri yang akan kehilangan ponsel pintar yang dipakai belajar, bermain game dan juga melihat hiburan ini.

“Ada yang gitu. Aku ancam saja laporkan ke bapak ibu. Abis itu dia (pelaku.red) gak pernah chat lagi,” ucapnya kepada beritajatim.com.

Lalu apa kata pakar dan pemerhati anak terkait predator seksual di Surabaya?

Yuliati umrah, Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang (Alit) Indonesia menjelaskan, terancamnya generasi muda sudah terjadi sejak mencuatnya ponsel pintar. Hanya saja selama pandemi ini para pemerhati anak lebih khawatir akan gencarnya para predator seksual ini.

Terlebih semakin banyak pengangguran dan terdukung dengan banyak anak belajar di rumah.

“Sejak dua tahun terakhir sudah marak predator anak ini. Hanya saja proses belajar online bagi saya lebih menghawatirkan lagi. Untuk anak sekolah yang sudah menikah belum ada, tapi anak sekolah yang menjual diri ada dan banyak. Seperti Surabaya Timur dan Tengah ada banyak anak jual diri,” tandas Alumnus Ilmu Politik Fisip Unair 1993 ini.

Patroli cyber, kontrol serta pengawasan orangtua menjadi kunci utama anak gadis kita terjaga dari predator seksual. Yulianti lebih menekankan orangtua menjadi peran utama tak hanya ortu yang memiliki anak perawan saja. Ortu yang memiliki anak lelaki juga wajib memberikan kontrol sesering mungkin.

Mengajarkan, memberi pengarahan dan menumbuhkan rasa keterbukaan diri langkah pertama para orangtua. Dengan proses seperti itu, maka orangtua akan mudah untuk mengajarkan anak supaya bisa tegas kepada rekannya atau bahkan ke orang yang punya keinginan nakal.

Selain itu membentuk karakter taat, tertib, terbuka dan jujur akan membentuk anak dengan psikologis lebih tertata. “Kuncinya pada orangtua yang bisa mengawasi. Beri jadwal bermain ponsel pintar, ajak mereka lebih banyak melakukan kesibukan positif tanpa ponsel. Jika sudah tertata jadwal dan kegiatan anak, maka semakin sibuk anak akan semakin jauh anak dari pelaku predator seksual ini,” terangnya.

“Sejak kecil dan sekolah anak kita berpeilaku positif dan jujur, maka kelak mereka akan menjadi generasi penerus yang hebat,” pungkas Yulianti.(man/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar