Peristiwa

Marhaban Ya Ramadan 1442 Hijriah

Suasana Rukyatul Hilal Tim Rukyat IAIN Madura di Kompleks Perguruan Tinggi Negeri di Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan, Senin (12/4/2021).

Marhaban Ya Ramadan, Ramadan Kareem, hingga Ramadan Mubarok, merupakan beberapa ucapan dan ungkapan yang seringkali didengar saat memasuki puasa Ramadan. Khususnya di kalangan umat Islam Indonesia.

Marhaban ya Ramadan berarti selamat datang Ramadan, karena itu mari bersama menyambut bulan suci dengan ucapan ahlan wa sahlan wa marhaban ya Ramadan, bulan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta bulan penuh berkah dan ampunan.

Termasuk juga ucapan Ramadan Mubarak, yakni Ramadan penuh berkah dengan harapan semoga kita semua mendapat keberkahan dengan datangnya bulan Ramadan. Demikian juga dengan ucapan Ramadan Kareem, dengan harapan di bulan suci ini kita semua mendapatkan banyak pahala.

Seperti diketahui bersama, Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an Al-Kareem hingga peristiwa Lailatul Qadar, yakni malam dengan lipatan kebaikan dari seribu bulan, malam di mana pintu maghfiroh (pengampunan) dibuka selebar-lebarnya, serta pahala segenap amal kebajikan dilipatgandakan.

Karena kemuliaan Ramadan sebagai bulan penuh berkah, maka momentum Ramadan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan dengan mengisi berbagai amal kebajikan selama sebulan (penuh) kedepan.

Awal Ramadan 1442 Hijriah
Pemerintah melalui Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) bersama Komisi VIII DPR, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB).

Serta Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, seperti Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persis dan Al Washliyah, serta 29 Duta Besar negara sahabat yang diundang dalam kegiatan yang juga menerapkan sistem daring akibat pandemi Coronavirus Disiase 2019.

Bersamaan dengan momentum tersebut, Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1442 Hijriah bertepatan dengan hari Senin, 12 April 2021 Masehi. Hal itu berdasar hasil hisab, di mana ketinggian hilal berada di atas ufuk 3 derajat 44 menit 38 detik saat petang setelah matahari terbenam.

Hisab merupakan kalkulasi akurat yang digunakan untuk memetakan posisi matahari dan bulan. Muhammadiyah memiliki kebiasaan menetapkan waktu awal puasa jauh hari sebelum pemerintah melalui Kemenag menggelar Sidang Isbat Awal Ramadan di setiap tahunnya.

Memang selama ini, Muhammadiyah mendasarkan penetapan 1 Ramadan dengan menggunakan hisab, sementara Kemenag memakai hisab yang dikombinasikan dengan melihat bulan baru atau yang biasa disebut dengan istilah rukyatul hilal. Bahkan Muhammadiyah juga sudah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah pada Kamis, 13 Mei 2021 Masehi (tinggi bulan berada pada ketinggian 5 derajat 30 menit 58 detik).

Sementara penentuan awal puasa 2021 Kemenag RI atau Sidang Isbat dilakukan pada hari ini 12 April 2021 bertepatan dengan 29 Sya’ban 1442 Hijriyah. Sidang berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jl. MH. Thamrin No 6 Jakarta.

Berdasar informasi, sidang istbat dibagi dalam tiga tahap. Pertama, pemaparan posisi hilal awal Ramadan 1442 H oleh anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag. Kedua, sidang isbat awal Ramadan yang akan digelar setelah Salat Magrib (digelar tertutup). ketiga, konferensi pers hasil sidang isbat oleh Menteri Agama.

Tidak hanya itu, Kemenag RI juga menerjunkan sejumlah pemantau hilal Ramadan 1442 H di 86 lokasi dari 34 provinsi di Indonesia. Mereka berasal dari petugas Kanwil Kementerian Agama dan Kemenag Kabupaten/Kota yang bekerjasama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam serta instansi terkait setempat. [pin/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar