Peristiwa

Marak Intoleransi, Indonesia Merindukan Sosok Gus Dur

Surabaya (beritajatim.com) – Kehadiran Gus Dur kini dirindukan oleh segenap bangsa Indonesia. Salah satunya, hal itu dirasakan oleh Dhimas Anugrah, politisi muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sosok Presiden ke-4 Republik Indonesia itu kini sangat dirindukan ketika situasi tengah sedikit memanas akibat praktik rasisme dan intoleransi agama serta minimnya semangat Pancasila.

“Saya kagum dengan Gus Dur karena beliau seorang kiai hebat. Pemikiran beliau brilian dan sangat luas. Gus Dur toleran terhadap semua golongan, itu sebabnya beliau dicintai rakyat Indonesia,” ujar Dhimas.

“Gus Dur adalah kiai dengan pemahaman agama mendalam yang menerima dan menghidupi Pancasila. Bahkan Presiden Soeharto menjadikan Gus Dur sebagai indoktrinator Pancasila pada tahun 1985,” imbuhnya.

Pria yang tengah menuntaskan studinya di Oxford ini juga mengungkapkan gaya berpolitik Gus Dur yang turut mengundang kekagumannya. “Walaupun dikenal sebagai seorang yang terkadang kontroversial dan sulit ditebak, Gus Dur mampu melakukan improvisasi politik yang tak terduga. Sekalipun di masa lalu beliau pernah masuk Golkar, tapi beliau waktu itu justru mengkritik Pemerintah, contohnya mengkritik proyek Waduk Kedung Ombo. Gus Dur tidak pernah menjilat kepada penguasa,” jelasnya.

“Gus Dur tahu benar risikonya jika berani mengkritik Pemerintah pada masa itu, yaitu akan tidak disukai Pemerintah, namun nyatanya Gus Dur tetap tegar pada prinsip kebenaran yang ia yakini. Kita butuh sosok Gus Dur pada masa ini. Gus Dur pernah mengatakan bahwa pemerintahan Orde Baru bukan pemerintahan parlementer dan bukan pula pemerintahan presidensial, jadi ini pemerintahan yang bukan apa-apa,” kutip pria yang namanya masuk di Bursa Pilwali Surabaya 2020 itu.

Pada kesempatan yang sama, Dhimas juga menyatakan kekagumannya pada dedikasi Gus Dur terhadap para kiai sepuh dan NU. “Ketika Gus Dur menjadi Ketua PB NU, beliau setia menjalankan tiga agenda, yaitu mengunjungi para kiai di pesantren, menghadiri agenda-agenda resmi NU atau yang berkaitan dengan NU, dan berziarah. Ini menunjukkan beliau seorang yang penuh dedikasi dan hormat, baik kepada kiai, NU, dan kearifan budaya lokal,” ujar Dhimas.

“Ketika ditanya seperti apa posisi NU sebenarnya di kancah politik, Gus Dur dengan cerdas menjawab: NU tidak ke mana-mana, tapi NU ada di mana-mana. Itu jawaban sederhana namun punya arti yang sangat dalam,” kata Dhimas terkagum.

Dhimas mengatakan bahwa saat ini Indonesia membutuhkan Gus Dur-Gus Dur muda, yaitu generasi muda yang religius, berpikiran luas, dan nasionalis. Dengan kombinasi religius-nasionalis tersebut niscaya Indonesia tetap dapat bertahan dan menjadi bangsa yang besar.

“Manusia Indonesia tidak bisa lepas dari keyakinan dan hormat pada Tuhan Yang Maha Esa, itu adalah panggilan batin yang mulia. Dan Indonesia tak bisa lepas dari kebinekaan, di situ kita diundang untuk saling menghormati satu sama lain,” pungkasnya.[ifw/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar