Peristiwa

Mansurin Barokah Rangkul Ratusan Penambang Tradisional Lahar Kelud Kediri

Kediri (beritajatim.com) — Ratusan pencari pasir tradisional di aliran lahar Gunung Kelud Kabupaten Kediri akhirnya bisa bernafas dengan lega. Pasalnya, mereka bakal direkrut oleh sebuah perusahaan tambang resmi dalam program kerjasama usaha.

Sedikitnya ada 200 orang pencari pasir dengan peralatan manual tersebut. Mereka mengambil material lahar Gunung Kelud di Sungai Ngobo untuk dijual sebagai mata pencarian utama. Karena tidak memiliki izin, selama ini mereka selalu dihantui kecemasan. Mereka bisa sewaktu-waktu berurusan dengan pihak yang berwenang karena dianggap melanggar aturan.

Kini para pencari pasir akan dirangkul oleh CV Mansurin Barokah. Perusahaan pertambangan pasir dan batu tersebut menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan. Bahkan, pihak perusahaan bakal memberikan perlindungan keselamatan kerja dalam program bentuk BPJS.

Menurut Direktur CV Mansurin Barokah, Eko Cahyono, sejak izin usaha pertambangan tersebut keluar, sebenarnya pihak perusahaan telah menawarkan kerjasama kepada para penambang manual. Tetapi kesepakatan usaha bersama tersebut baru terealisasi sekarang.

“Kami mengajak penambang manual bekerja bersama sama. Mereka bakal mendapatkan banyak keuntungan. Mereka bisa menjual pasir kepada kami juga dapat meminta alat berat untuk menyingkirkan bongkahan batu yang menghalangi pencarian pasir. Kita bisa menggemburkan material tersebut, supaya mempermudah mereka mengambil dengan alat tradisional,” kata Eko Cahyono di lokasi tambang aliran lahar Sungai Ngobo.

Pihak CV Mansurin Barokah hari ini memasang papan pengumuman berisi izin usaha di lokasi tambang. Dimana, ada 14,8 hektar luasan daerah eksplorasi yang diizinkan oleh pengelolaan Sumber daya alam (SDA) kepada perusahaan ini. Kawasan resmi tambang tersebut dapat dikeruk oleh pencari pasir yang bersepakat kerjasama.

Dalam kerjasama usaha ini, penambang manual ternaungi oleh izin resmi perusahaan. Mereka juga bisa menjadi pekerja dari perusahaan serta menjual pasir kepada perusahaan. Dimana, pihak perusahaan juga mendirikan tempat penampungan pasir atau stockpille tak jauh dari lokasi tambang, sehingga dapat menekan biaya transportasi atau ongkos gendong mereka.

“Kami menepis kabar bahwa pemilik izin resmi akan mengesampingkan pekerja manual. Justru kami telah mendata dan mengajak mereka bekerja bersama sama. Malahan kami mengasuransikan mereka sebagai pekerja,” imbuh Eko yang juga Ketua LMDH Budidaya Satak.

Perlu diketahui, lokasi tambang di Kali Ngobo ini sering terjadi insiden kecelakaan kerja. Bahkan pernah terjadi korban jiwa dari pencari pasir dan sopir truk karena tersapu banjir lahar dingin. Mereka yang bekerja dengan penuh resiko ini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

“Bila terjadi insiden seperti yang sudah susah, keluarga di rumah bisa menurut apa. Mereka bekerja tanpa perlindungan jaminan. Oleh sebab itu, kita memandang hal tersebut. Kita berikan mereka BPJS agar terlindungi,” terus Eko.

Tak hanya jaminan arusansi, pihak perusahaan juga akan melakukan deteksi dini terhadap ancaman bencana di lokasi tambang. Perusahaan akan menempatkan seorang tenaga pemantau di kawasan Puncak Gunung Kelud. Sehingga dapat memberikan peringatan bila terjadi banjir dari hulu sungai.

“Kita tempatkan tenaga pemantau yang dapat memberikan peringatan bila sewaktu waktu terjadi banjir di puncak. Sehingga penambang bisa keluar dari aliran lahar sebelum banjir tiba. Karena di kawasan tersebut tidak bisa berkomunikasi dengan pesawat telepon. Melainkan dengan radio HT,” beber Eko.

Tawaran kerjasama dari CV Mansurin Barokah ini mendapatkan respon positif dari pencari pasir. Salah satunya Heri warga setempat. Pria 38 tahun ini sudah 5 tahun terjun di aliran lahar Kali Ngobo sebagai pencari pasir dengan alat seadanya seperti, cangkul dan skop.

Heri mengaku, sehari menghasilkan Rp 100 ribu dari aktivitas tersebut. Dirinya merasa senang bila dirangkul pihak perusahaan. Terlebih mendapatkan jaminan asuransi. “Selain merasa terlindungi, semoga bisa bisa menambah penghasilan,” ungkapnya.

Terpisah, Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono menyarankan agar pihak perusahaan dan masyarakat pencari pasir dapat bekerjasama. Sehingga masyarakat dapat terayomi dari perusahaan yang memiliki izin resmi.

“Alangkah lebih baiknya bahwa semuanya bisa bekerjasama dan bersinergi. Baik dari perusahaan yang berizin dan dari pekerja manual. Kehadiran perusahaan harus dapat membawa manfaat dengan adanya jaminan kesehatan dan keselamatan pekerja sehingga yang selama ini sering terjadi kecelakaan kerja bisa diminimalkan dan juga harapannya kesejahteraan pekerja bisa lebih meningkat,” saran Kapolres. [nm/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar