Peristiwa

Jaksa Mendakwa Mak Susi Langgar UU ITE

Mak Susi Teriak ‘Merdeka’ saat Sidang

Surabaya (beritajatim.com) – Tri Susanti alias Mak Susi menjalani sidang perdana kasus penyebar ujaran kebencian dan berita bohong dalam insiden kerusuhan Asrama Mahasiswa Papua, Rabu (27/11/2019). Susi sempat menyerukan kata ‘Merdeka!’ saat memasuki ruang persidangan.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Johanes Hehamony, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mohamad Nizar membacakan dakwaannya bahwa berdasarkan hasil wawancara dari stasiuntelevisi I-News TV yang berdurasi selama 00.54 detik, terdakwa berujar dengan kalimat ‘setelah ditinggal ternyata bendera tersebut di robek, di masukan ke selokan dan dipatah-patahkan, lha ini yang akhirnya menimbulkan amarah dari ormas dan masyarakat Surabaya.

“Sedangkan fakta yang terjadi adalah bendera tersebut hanya masuk ke dalam selokan dan tiang bendera dalam keadaan bengkok (bukan patah),” ujar jaksa Nizar.

Nizar menyebut, hal tersebut memantik gesekan rasisme dan menyebabkan kerusuhan di Manokwari, Papua Barat. Lanjut Nizar, atas kejadian tersebut Polda Jatim menemukan data dan informasi di internet terkait kerusuhan di Manokwari, Papua Barat dan pembakaran gedung DPRD Papua Barat.

“Didapatkan informasi bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh berita hoaks yang mengandung unsur SARA, serta hal yang berbau rasis yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya pada tanggal 17 Agustus 2019 yang dilakukan oleh Tri Susanti,” jelasnya.

Selain itu, Susi juga menyebarkan pesan di grup WhatApps dengan nada memprovokasi memanggil massa agar berdatangan di lokasi Asrama Papua di Jalan Kalasan, Surabaya.

“Mengirim informasi atau pesan di Group INFO KB FKPPI yang berisi ‘Mohon perhatian URGENT kami butuh bantuan MASSA karena anak PAPUA akan melakukan perlawanan dan telah siap dengan senjata tajam dan panah PENTING PENTING PENTING,” ungkap jaksa.

“Namun pada saat itu di Asrama Papua Jalan Kalasan Surabaya sekitar pukul 14.00 WIB. sudah dilakukan upaya paksa oleh petugas Kepolisian dan tidak ada anak Papua yang melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata tajam dan panah. Hal tersebut terdakwa maksudkan agar datang teman-teman dan rekan sesama aktivis guna antisipasi dan menjaga keamanan,” tambahnya.

Atas perbuatan Susi didakwa Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU No. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik.

Mendengar dakwaan tersebut, melalui kuasa hukumnya, Susi mengajukan eksepsi. “Dari tim kuasa hukum mengajukan eksepsi,” ujar kuasa hukum Mak Susi, Sahid. [uci/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar