Peristiwa

Gaung Sakala Bhumi Majapahit 2020

Majapahit dan Gugurnya Ranggalawe di Sungai Tambakberas

Bupati Hj Mundjidah Wahab saat menyampaikan sambutan di acara Gaung Sakala Bhumi Majapahit 2020 di Pendapa Jombang, Kamis (5/11/2020)

Jombang (beritajatim.com) – Pendapa Kabupaten Jombang dipercantik sedemikian rupa. Ada dua gapura khas Majapahit di pendapa tersebut. Pendapa miniatur itu berwarna coklat dengan berbahan bata. Sementara dari layar yang berada di panggung muncul tayangan video pendek.

Video itu mengetengahkan pertarungan dua pria berseragam pasukan kerajaan. Mereka perang tanding di tengah sungai. Satu dari pria tersebut dibenamkan kepalanya ke dalam sungai. Itulah gambaran pertarungan antara Ranggalawe dan Kebo Anabrang di Sungai Tambakberas Jombang.

Pertarungan dua punggawa Majapahit itu menjadi kisah abadi. Ranggalawe gugur di Sungai Tambakberas. Ranggalawe gugur di tangan sahabatnya sendiri, Kebo Anabrang. Undangan yang hadir di pendapa Kabupaten Jombang menyaksikan dengan seksama tayangan video pendek tersebut.

Tayang video itu diakhiri dengan pembacaan puisi secara langsung oleh seorang pria dan wanita serta seorang anak kecil. Itulah salah satu bagian dari acara Gaung Sakala Bhumi Majapahit 2020 yang digelar di Pendapa Kabupaten Jombang, Kamis (5/11/2020).

Gaung Sakala Bhumi Majapahit 2020 merupakan peringatan Hari Jadi Majapahit ke-727. Acara itu kerjasama BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur, Pemkab Jombang, Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) Jombang, serta Sanggar Rebung. Usai penayangan video dilanjutkan dengan talkshow dengan tema ‘Majapahit dan Tata Kelola Air’.

Kepala Unit PIM BPCB Jatim Ahmad Hariri menjelaskan bahwa acara tersebut dalam rangkan menggaungkan kelahiran Majapahit, yakni 10 November 1293 Masehi. Program rutin tersebut digelar secara rutin sejak 2011. Namun untuk tahun 2020 ini peringatan tersebut dilaksanakan secara berbeda. Formatnya tidak lagi mengundang kerumunan massa.

Rencananya, kata Hariri, acara peringatan itu digelar di delapan titik. Namun karena ada sesuatu hal, akhirnya hanya tiga titik. Salah satunya digelar di pendapa Kabupaten Jombang. “Jombang kita pilih menjadi lokasi peringatan. Karena sesuai sejarah, Jombang merupakan bagian tidak bisa dipisahkan dari Majapahit,” kata Hariri.

Hariri menambahkan, dalam pelaksanaan ‘Gaung Sakala Bhumi Majapahit 2020’ pihaknya menggandung Lesbumi Jombang. Walhasil, dari kerjasama itu mengembang ke Pemkab Jombang, Pemdes Mojokrapak, Kecamatan Tembelang. Bahkan bisa melaksanakan Festival Batu Gilang. “Ini sangat bagus. Melebihi ekpekstasi kami,” ujarnya.

Talk show dengan tema ‘Majapahit dan Tata Kelola Air’ yang digelar di pendapa Kabupaten Jombang, Kamis (5/11/2020)

Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab memberikan apresiasi khusus atas digelarnya Gaung Sakala Bhumi Majapahit 2020. Apalagi, Jombang dipilih menjadi salah satu tuan rumah peringatan tersebut. Mundjidah menyadari Jombang memiliki sejarah panjang. Jombang memiliki kaitan erat dengan Majapahit. Jombang tidak bisa dilepaskan dari Majapahit.

Hal itu dibuktikan banyaknya temuan kesejarahan Majapahit di Jombang. Banyak situs kerajaan Majapahit yang ada di Jombang. Semisal, Candi Arimbi yang ada di Kecamatan Bareng, kemudian situs petirtaan Sumberbeji di Kecamatan Ngoro, serta pertiaan yang ada di Sendang Made Kecamatan Kudu.

“Banyak sekali situs Majapahit yang ditemukan di Jombang, Banyak sekali petirtaan Majapahit yang berada di Jombang. Ini menandakan bahwa Jombang tidak bisa dilepaskan dari Majapahit. Saya ucapkan terima kasih karena Jombang terpilih menjadi salah satu tempat peringatan lahirnya Majapahit,” ujar Mundjidah.

Ketua PC Lesbumi Jombang Inswiardi mengungkapkan, pihaknya menggelar acara tersebut karena merupakan amanat dari Rakornas Lesbumi. Dalam rakornas itu disebutkan bahwa Lesbumi wajib merawat sumber-sumber pengetahuan. Bagi Inswiardi, situs dan tempat berserah merupakan sumber-sumber pengetahuan dan di dalamnya bersemayam nilai.

Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab bersama Wabup Sumrambah serta Sekda Ahmad Jazuli

“Nah, inilah yang akan terus kita lestarikan. Sehingga generasi mendatang bisa mewarisi peninggalan-peninggalan tersebut. Jombang ini kaya dengan bangunan suci yang notabene peninggalan kerajaan. Sekali lagi, peninggalan-peninggalan itulah yang harus kita lestarikan,” ujarnya.

Sementara itu, pembukaan kegiatan tersebut ditandai dengan penyerahan cinderamata Sanggar Rebung kepada BPCB, Bupati, Wakil Bupati, Sekdakab Jombang dan para narasumber oleh Warsubi Kades Mojokrapak selaku Pembina. Serta dilakukan penandatanganan MOU PT. Phalosari dengan Sanggar Rebung dan Lesbumi dalam program Pengembangan ekonomi kreatif Kawasan situs cagar budaya.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan talk show yang menghadirkan narasumber diantaranya Kepala BPCB Jatim Andi Muhammad Sa’id, Dr. Amien Widodo (Dosen ITS Surabaya), dan Sisyantoko (Penggiat Lingkungan Wisata Mojokerto).

Talk show ini membahas tentang bagaimana pemanfaatan air yang melimpah di Kabupaten Jombang. Misalnya air yang berada di Situs Petirtaan Sumberbeji di Dusun Sumberbeji Desa Kesamben Kecamatan Ngoro. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar