Peristiwa

Longsor di Kedewan, Camat: Fungsi Hutan Harus Dikembalikan

Anggota BPBD Bojonegoro saat berada di lokasi longsor di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro

Bojonegoro (beritajatim.com) – Longsor yang terjadi di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro menurut Camat Kedewan, Edy Subroto disebabkan karena fungsi hutan sudah mulai berganti. Banyak lahan hutan yang beralih menjadi lahan perkebunan.

Akar pohon yang berfungsi mencengkeram tanah agar tidak longsor sudah banyak berkurang. Beberapa kali, pihaknya melakukan program yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat, agar tetap menjaga fungsi hutan. “Hutannya memang sekarang sudah rusak,” ujar Edy Subroto, Kamis (30/1/2020).

Sebelumnya, menurut Edy, di titik longsor yang berada di RT 01 RW 01 itu tidak pernah terjadi longsor. Jalan penghubung antar kecamatan Malo dengan Kedewan itu kondisinya dulu paving dan sudah kuat. Namun, setelah dibangun jalan beton menjadi titik jenuh air yang mengakibatkan rawan longsor karena tidak diberi saluran irigasi.

“Selain itu memang tata guna hutan di kawasan sekitar sudah mulai ada pergeseran. Kawasan hutan beralih menjadi perkebunan sehingga mau tidak mau hutannya gundul,” tegasnya.

Pihak Kecamatan, lanjut dia, bersama dengan pemuda, beberapa masyarakat dan stakeholder serta pengelola Sumur tua, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) terus mendorong gerakan reboisasi. Tapi masih fokus di sekitaran kawasan wisata.

“Itupun saya memilih pohon peneduh, dan pohon buah-buahan seperti matoa. Dan yang susah memang membentuk penyadaran pentingnya fungsi tata guna hutan,” ujarnya.

Perhutani dalam persoalan ini, kata dia, yang bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) juga masih minim dalam memberi penyadaran pentingnya fungsi hutan. Bentuk kerjasama LMDH dengan Perhutani justru sebagian besar difungsikan sebagai lahan perkebunan.

“Perhutani seharusnya bisa memberi pengertian kepada LMDH untuk bisa menjaga dan pentingnya tata guna fungsi hutan. Harus ada sinergitas untuk sama-sama bergerak mengurangi longsor,” jelasnya.

Sekadar diketahui, tanah longsor yang terjadi kemarin sore itu terjadi sepanjang kurang lebih 20 meter, lebar 1 meter dengan ketinggian 3,5 meter. Longsor terjadi di bahu jalan sehingga mengakibatkan jalan hot mix yang menghubungkan antar kecamatan mengalami keretakan.

Selain itu, saluran penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) terputus. Sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Eko Susanto mengatakan Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan merupakan salah satu daerah yang rawan bencana longsor. Pada 2017 lalu daerah sekitar pengeboran minyak tua yang dilakukan secara manual itu juga longsor.

“Kecamatan Kedewan salah satu daerah rawan longsor, sehingga masih ada potensi longsor susulan dan mengakibatkan rumah dibawah tebing terdampak,” ujarnya. [lus/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar