Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Limbah Sampah di Lamongan Diubah Jadi Bahan Kaos Melalui TPST Samtaku

Kepala DLH Lamongan Anang Taufik saat memaparkan evaluasi kinerja Perangkat Daerah dan pengelolaan sampah di Ruang Kerja Bupati Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Dalam rangka merubah sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Lingkungkan Hidup (DLH) mencetuskan berbagai inovasinya, yakni dengan menjadikan limbah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sampahku Tanggung Jawabku (Samtaku) sebagai bahan untuk membuat kaos.

“Saat ini kita mengembangkan pengolahan limbah plastik untuk dijadikan bahan kaos. Jadi potensi ini akan kita maksimalkan lagi. Limbah sampah tidak hanya bisa ditukar dengan uang tapi nilai ekonomisnya kita tingkatkan lagi,” ungkap Kepala DLH Lamongan, Anang Taufik saat dihubungi, Rabu (11/8/2021).

Kepala DLH Lamongan Anang Taufik saat memaparkan evaluasi kinerja Perangkat Daerah dan pengelolaan sampah di Ruang Kerja Bupati Lamongan.

Demi mensukseskan hal tersebut, Anang Taufik mengaku, bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi (YES) terkait inovasi dalam pengelolaan sampah saat pihaknya memberikan pemaparan evaluasi kinerja Perangkat Daerah di Ruang Kerja Bupati Lamongan, pada selasa (10/8/2021) kemarin.

Diketahui, evaluasi kinerja perangkat daerah itu secara rutin dilakukan untuk mengetahui bagaimana kinerja OPD di tahun berjalan dalam pencapaian target RPJMD tahun 2016-2021. Pemaparan Evaluasi Kinerja dilakukan bergilir oleh tiap Kepala OPD dihadapan Bupati YES, Tim Penilai dan Tim Independen yang akan dilaksanakan sampai dengan Akhir Bulan Agustus 2021.

Berkenaan dengan itu semua, Anang Taufik menjelaskan, bahwa polimer bahan kaos tersebut berbahan dasar plastik daur ulang yang dilakukan melalui proses polimerasi. Polimerisasi sendiri adalah proses kimia di mana reagen, monomer (senyawa dengan berat molekul rendah) secara kimia dikelompokkan bersama, sehingga menimbulkan molekul besar, yang disebut polimer, atau rantai linear atau makromolekul tiga dimensi.

“Biasanya kain kaos spandex produknya yang tetap dicampur dengan bahan pembuat kain lain seperti selulosa poli etilen dan lainnya. Yang membedakan, bahwa polimer yang ada tersebut berbahan plastik daur ulang atau disebut Poli Etilen Tereftalat (PET) yang berasal dari produk Danone dan beberapa vendornya,” lanjut Anak Taufik.

Lebih jauh, Anang Taufik menuturkan, bahwa TPST Samtaku tersebut mempunyai kapasitas maksimal 100 ton per hari. Saat ini, imbuh Anang, TPST Samtaku masih mengolah sampah kurang lebih 40 ton per hari. “Tak hanya limbah plastik, TPST Samtaku juga telah mampu mengubah limbah pampers atau pembalut menjadi bahan sumur resapan,” pungkasnya. [riq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar