Peristiwa

Limbah Pemotongan Hewan Cemari Bengawan Solo

Bojonegoro (beritajatim.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro menilai limbah pemotongan hewan di kompleks Pasar Kota Bojonegoro yang dibuang ke Sungai Bengawan Solo bukan menjadi permasalahan serius. Limbah pemotongan hewan merupakan organik yang bisa menjadi makanan bagi ikan.

Kepala Bidang Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Soleh Fatoni mengatakan keberadaan rumah potong hewan (RPH) tersebut sudah pernah dibahas dengan pemiliknya. RPH itu merupakan milik Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro.

Hasil koordinasi yang dilakukan antarkedua OPD Pemkab Bojonegoro itu menyepakati, limbah pemotongan hewan, oleh Dinas Peternakan dan Perikanan akan dibuatkan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Selain itu, RPH yang berada di sisi utara pasar kota tersebut akan dipindahkan, namun tidak jadi.

“Sekarang hanya akan dilakukan renovasi. Tapi proses renovasi itu masih tahap pencarian lahan, tapi sudah dianggarkan,” katanya, Sabtu (20/7/2019).

Sejauh ini, DLH Kabupaten Bojonegoro belum pernah melakukan proses kalkulasi hasil limbah pemotongan hewan yang langsung dibuang ke Sungai Bengawan Solo. “Belum pernah dihitung berapa liter limbah darah yang terbuang ke Bengawan Solo,” terangnya.

Hasil pengukuran tingkat pencemaran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu saat ini, kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) masih di bawah ambang batas. Pencemaran tertinggi, ditengarai dari limbah bahan kimia, seperti batik.

“Secara kandungan BOC dan COD tingkat pencemaran masih di bawah ambang batas. Mungkin karena limbah dari alam kembali ke alam,” katanya.

Sementara diketahui, salah seorang pekerja di RPH yang ada di atas tanggul Sungai Bengawan Solo mengaku limbah darah tersebut langsung mengalir ke sungai. Selain limbah darah, juga limbah bulu ayam. Untuk bulu ayam setiap hari ditampung di bibir sungai. Bulu ayam tersebut dijemur dan jika sudah kering ada pengepul sendiri yang akan mengambil.

“Setiap hari bisa tiga ember lebih bulu ayam yang ditampung, setelah kering biasanya tiga hari sekali sudah ada yang mengambilnya sendiri,” kata pekerja yang enggan menyebut namanya. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar