Peristiwa

Aliansi Pemuda Pantura Lamongan

Lewat Bedah Film, Ingatkan Pentingnya Kesadaran Lingkungan

Lamongan (beritajatim.com) – Aliansi Pemuda Pantura Lamongan menggelar acara bedah film dan diskusi yang bertempat di Kedai Blosoo Kopi, Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran. Kabupaten Lamongan. Acara tersebut mengangkat tema Lamongan darurat agraria dan bencana, Sabtu (24/4/2021).

Salah satu pertimbangan diadakannya bedah film dan diskusi ini untuk menggugah kesadaran para pemuda dan masyarakat dalam menyikapi isu-isu lingkungan secara kritis. “Untuk menambah wawasan, jiwa kritis dan keterlibatan pemuda, mahasiswa, serta masyarakat umum mengenai isu-isu yang berada di sekitar kita,” jelas Syaifuddin (30), kordinator pelaksana bedah film dan diskusi.

Film pendek yang dipilih sebagai bahan diskusi ini berjudul Kinipan. Film dokumenter ini produksi Watchdoc, garapan sutradara Dandhy Laksono yang diluncurkan pada 27 Maret 2021. Film ini menceritakan tentang pandemi, omnibus law, dan lumbung pangan, termasuk potret terjadinya kerusakan hutan dan masyarakat yang tersingkir.

Nama Kinipan diambil dari nama desa di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, yang alamnya tergerus karena invasi perkebunan sawit sejak beberapa tahun lalu.

Hadir tiga pembicara dalam acara itu. Yakni, Miftah Alamudin selaku Ketua IKA PMII Lamongan, Sholahudin Arroniri dari Pemerhati Lingkungan, dan Ainur Rofiq selaku Ketua PC LPBI NU Lamongan. Pada sesi diskusi mereka mengingatkan tentang pentingnya kritis terhadap kebijakan dan persoalan lingkungan serta alam.

“Ada 3 hal yang berdampak pada terjadinya perubahan di lingkungan kita, di antaranya ialah ulah kita sendiri, industrialisasi, dan kurangnya peran pemerintah,” terang Roni.

Pada kenyataannya, keberadaan industrialisasi memang ada di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan jiwa kritis dari elemen masyarakat dalam mengawal proses tersebut agar tidak menimbulkan kerusakan.

“Syukur, konflik komunal seperti di film itu belum ada di kawasan kita. Agar proses kerusakan tidak terjadi, perlu kita lebih waspada dan kritis terhadap sekitar. Industrialisasi dan alih hutan tanpa adanya hitungan yang jelas, maka hasilnya rusak. Padahal tidak ada rumusnya, alam demokrasi yang sehat itu berdiri di atas lingkungan yang rusak,” tambah Roni dalam statement-nya malam itu.

Sementara itu, Ainur Rofiq menambahkan pentingnya untuk terus membekali diri dan penguatan SDM masyarakat dalam menjaga lingkungan serta ancaman yang berpotensi muncul akibat dari rusaknya lingkungan.

“Jangan terlalu berharap penuh pada pemerintah saja, kita harus punya ketangguhan diri. Ya, kita terus berkontribusi terhadap lingkungan alam sekitar kita, mulai dari hal-hal kecil dulu, tapi kita lakukan dengan konsisten.” tuturnya.

Dalam sesi diskusi selanjutnya, Miftah Alamudin menjelaskan, tentang pentingnya mengkaji dan melakukan advokasi bersama secara riil menggunakan data, agar tidak hanya teori, sehingga output dari gerakannya bisa jelas.

“Kalau melihat sekilas film ini, sebenarnya tidak jauh dari kondisi faktual di wilayah kita. Pembangunan dan perubahan akan terus terjadi. Kalau kita melawan, kita yang tergilas. Maka, jadilah masyarakat industri yang humanis. Lakukan advokasi dengan data, tidak hanya teori,” paparnya.

Alamudin juga mengharapkan, akan ada banyak karya-karya jurnalistik yang bisa memberikan informasi kepada publik tentang kondisi nyata yang terjadi di masyarakat melalui forum ini. “Saya berharap nantinya akan muncul banyak karya, tulisan dari diskusi yang kita bangun ini,” harapnya

Ruri, pemuda asal Desa Drajat Kecamatan Paciran yang hadir mengungkapkan bahwa acara seperti ini sangat bermanfaat dan berharap akan ada diskusi-diskusi lainnya. “Sangat menambah wawasan, kita disadarkan bagaimana seharusnya berperan di lingkungan dan kritis terhadap tiap perubahan. Semoga nantinya banyak pemuda yang berpartisipasi dalam acara seperti ini,” ungkap Ruri. [riq/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar