Peristiwa

Legacy Fadeli dan Kekaguman pada Kejelian Wartawan

Bupati Lamongan, H Fadeli dengan Ketua PWI Jatim, Ainur Rohim di Guest House Pendopo Pemkab Lamongan, Senin (15/2/2021) saat kegiatan seremoni penghijauan. [Foto: air/bj.com]

Lamongan (beritajatim.com) – Dua hari lagi mengakhiri jabatannya sebagai Bupati Lamongan. H Fadeli, SH, MM tetap memiliki kesibukan tinggi. Momentum terakhir memimpin birokrasi Pemkab Lamongan dimanfaatkan untuk pamitan kepada banyak pemangku kepentingan di daerah ini.

“Setelah pensiun dan tak lagi menjabat (sebagai bupati), saya tetap berada di Lamongan. Saya lahir dan besar di daerah ini. Insya Allah akan terus berada di sini (Lamongan),” tukas Bupati H Fadeli.

Selama 45 tahun Fadeli bergelut dengan dinamika birokrasi dan roda pemerintahan di Lamongan. Pria kelahiran Lamongan, 16 Juli 1955 ini menapaki dunia birokrasi dari bawah. “Saya pernah menjadi pekerja harian di Pemkab Lamongan,” ungkapnya.

Kesabaran, ketelatenan, kerja keras, dedikasi, dan loyalitas terus ditunjukkan Fadeli di birokrasi Pemkab Lamongan. Kesabaran itu membuahkan hasil. Sebelum memangku jabatan sebagai bupati Lamongan periode 2010-2015 dan 2016-2021, Fadeli sempat menapaki puncak karir di birokrasi: menjabat Sekdakab Lamongan selama 5 tahun.

“Sepuluh tahun jadi bupati dan sempat lima tahun menjabat sekdakab,” ujarnya. Puncak karir sebagai birokrat tersebut ternyata berlanjut saat dia terpilih sebagai bupati Lamongan dan dilantik bersama pasangannya, Amar Syaifuddin (PAN) pada 9 Agustus 2010.

Fadeli terkenal sebagai bupati yang suka blusukan dan merakyat. Di Pilkada Lamongan 2015, Fadeli kembali masuk bursa pilkada berpasangan dengan Kartika Hidayati, seorang politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan aktivis Muslimat NU Lamongan. Pasangan Fadeli-Kartika mengandaskan lawan-lawan politiknya di kontestasi politik yang berlangsung demokratis dan akuntabel.

“Setelah ini saya akan lebih banyak bersama keluarga dan tinggal di Lamongan. Mau di mana lagi kalau tidak di sini,” kata Fadeli yang kini telah dikaruniahi 9 cucu ini.

Kabupaten Lamongan sebagian besar warganya bergerak di sektor pertanian, perikanan, dan nelayan. Wilayah penyangga Kota Surabaya ini juga mulai dirambah sektor industri manufaktur, mengingkat tingkat upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Lamongan lebih murah dibanding Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. “Industri mulai banyak masuk ke sini (Lamongan),” tuturnya.

Menyadari kekuatan dan keunggulan di bidang pangan, Bupati Fadeli terus bekerja keras dan inovatif untuk meningkatkan produktifitas lahan pertanian di Lamongan.

“Lahan pertanian boleh tetap luasannya, tapi produktifitas harus meningkat. Dalam konteks ini, perkembangan teknologi pertanian mesti terus diberikan kepada petani, baik itu menyangkut bibit, pupuk, dan lainnya,” ungkapnya.

Kerja keras dan pengelolaan manajemen pertanian yang konsisten dari Bupati Fadeli membuahkan banyak hasil. Satu di antaranya, Lamongan menjadi sentra produksi pangan di tingkat Jatim dan nasional.

“Sebelum memperoleh penghargaan dari Presiden Jokowi, kami pernah mendapat apresiasi dari PWI Jatim atas kinerja Pemkab Lamongan di bidang pangan,” ujarnya.

“Saya kagum dengan kejelian wartawan, khususnya PWI, yang terus men-support kami, khususnya di bidang pertanian. Kejelian Anda luar biasa,” katanya mengakui.

Pada peringatan HPN 2019 dan HUT PWI ke-73, PWI Jatim menganugerahkan PWI Jatim Award bidang Pangan kepada Bupati Fadeli dan Pemkab Lamongan. Argumentasinya, karena daerah ini memberikan kontribusi besar bagi kecukupan dan stabilitas pangan di tingkat Jatim dan nasional.

Catatan penting lainnya, produksi pangan berupa jagung di Lamongan di bawah kepemimpinan Bupati Fadeli mengalami lonjakan produksi luar biasa. “Produksi jagung dari 300 ribu ton menjadi 645 ribu ton per tahun. Itu kalau tidak salah yang jadi pertimbangan PWI Jatim memberikan penghargaan kepada kami saat itu,” jelas Bupati Fadeli.

Pemkab Lamongan, Bupati Fadeli, dan ribuan petani di daerah ini terus meneguhkan positioning kekuatan Lamongan di bidang pangan, terutama produksi beras, jagung, kedelai, daging sapi, daging ayam, dan lainnya.

Pada akhir 2020, diperkirakan produksi padi (gabah kering giling/GKG) diperkirakan mencapai 1.156.000 ton atau meningkat dibanding tahun 2019 yang tercatat 1.106.878 ton. Produktivitas padi saat ini telah mencapai 7,5 ton per hektar.

Namun demikian, ada beberapa wilayah yang memiliki produktivitas hingga mencapai 13,3 ton per hektar. Memaksimalkan teknologi yang ada, diharapkan produksi sebesar 13,3 ton per hektar melalui role model bisa diwujudkan. Petani Lamongan telah berinovasi melalui manajemen tanaman sehat padi sehat beras super (MTS Pas Baper).

Secara nasional, di tahun 2020 sektor pertanian tercatat mampu tumbuh sebesar 16,4 persen. Hal demikian juga terjadi di Lamongan. Bupati Fadeli mengutarakan, secara rata-rata produktifitas lahan pertanian jagung di Lamongan bisa mencapai 10 ton per hektar.

“Hasil produksi jagung ada yang mencapai 14 ton per hektar, tapi ada pula yang berkisar 7 sampai 8 ton per hektar. Produksi jagung kita sekitar 645 ribu ton per tahun. Sedang produksi padi dalam bentuk GKG kami diperkirakan tahun ini bisa mencapai 1,3 juta ton,” kata Fadeli.

Sinergitas dan kolaborasi dengan banyak kalangan, termasuk pers dan media massa, dalam meningkatkan produksi pertanian dalam arti luas dan mempromosikan kesejahteraan rakyat Lamongan, dalam pengamatan Bupati Fadeli, adalah realitas obyektif yang mesti diperhatikan dan dijalankan.

“Kita tak mungkin jalan sendiri tanpa dukungan rakyat, termasuk kalangan media massa. Support pers luar biasa bagi kemajuan dan peningkatkan kesejahteraan rakyat Lamongan,” tuturnya.

Bupati Lamongan asal Kecamatan Glagah Lamongan ini menyadari hari-hari terakhirnya bagai sebuah perjalanan yang akan menuju finish sebagai bupati Lamongan. Sepuluh tahun dia menjabat sebagai orang pertama di Lamongan. “Dan tak terasa tinggal menghitung hari tugas saya segera berakhir,” tukasnya.

Raihan sejumlah prestasi pembangunan di Lamongan selama 10 tahun kepemimpinannya memberikan legacy yang dikenang sepanjang masa. Lamongan, katanya, 12 kali berturut-turut sebagai peraih Piala Adipura, sentra produksi pangan (terutama beras) terbesar di Jatim dan masuk 5 besar nasional, peningkatan produktivitas jagung hingga 10 ton per hektar, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lamongan bergerak naik dari urutan 35 menjadi 15 di Jatim, predikat WTP dari BPK selama 4 tahun berturut-turut dengan akuntabilitas nilai A, hingga pencegahan korupsi terbaik nasional dari KPK.

Tekad kuat, kerja keras, sabar, dan tentu berdoa sebagai landasan vertikal adalah modal penting yang disadari dan dijalankan secara istiqomah Bupati Fadeli.

Meniti karir dari bawah di birokrasi Pemkab Lamongan tak membuat Fadeli kendor. “Apapun yang didasari dengan tekad kuat insya Allah menghasilkan prestasi,” tukasnya.

Prestasi yang diukir Fadeli tak sekadar birokrat karir di Pemkab Lamongan selama 35 tahun. Ternyata selama 10 tahun terakhir ini, Fadeli diberi amanah dan kepercayaan rakyat Lamongan sebagai pemimpin politik.

Dan dua hari lagi Fadeli mengakhiri jabatan tersebut. Fadeli dan Lamongan seperti keping mata uang tak mungkin dipisahkan. Terlalu lama relasi yang dibangun dan dirajut di antara keduanya. [air/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar