Peristiwa

Lebaran Kedua Tanpa Kampung Halaman

Puguh Isnawan dan keluarganya.

Surabaya (beritajatim.com) – Bagi keluarga Puguh Isnawan (44), bisa jadi, ini adalah Lebaran kedua tanpa kampung halaman. Padahal kendaraan telah siap. Sekitar dua setengah tahun lalu, Puguh mengambil kredit kendaraan roda empat.

“Mobil baru. Tujuannya ya hanya satu, agar bisa mudik dengan mudah pas Lebaran. Tapi mau bagaimana lagi. Pemerintah melarang, pabrik melarang, kapan hari telepon orang rumah (keluarga di kampung halaman, red) juga melarang. Katanya percuma mudik, orang-orang kampung sudah menyiapkan sekolahan dan balai desa untuk karantina,” kata Puguh, Senin (10/5/2021).

Puguh dan keluarganya asli Blitar selatan dan sudah 11 tahun menetap di Surabaya pinggiran bagian timur. Anaknya satu duduk di bangku SMP dan satunya lagi belum sekolah. Dia dan istrinya bekerja di pabrik. Di tahun-tahun sebelumnya, tiap Lebaran hendak datang, mereka selalu menghadapi persoalan yang sama. Problem kendaraan.

“Kita dulu selalu kebingungan kendaraan untuk mudik. Naik bus umum, kasihan anak-anak kalau harus berdesak-desakan. Naik sepeda motor juga sama, kasihan anak-anak. Mau sewa kendaraan, carinya sulit dan harganya mahal. Cari barengan tetangga atau saudara tidak mungkin. Mereka sendiri repot dengan urusan mudik ke kampung masing-masing,” katanya.

Dengan memberanikan diri, setengah perasaan was-was, Puguh dan istrinya memutuskan membeli kendaraan dengan cara kredit. “Jarang kita pakai. Selama ini ya di emper rumah terus. Sebab kita beli memang untuk mudik. Kalau sehari-hari, kita pilih pakai motor,” katanya.

Selama dua tahun lebih beli kendaraan roda empat baru, Puguh mengaku baru sekali dipakai ke kampung halaman. “Kita pakai sekali awal tahun ini ke Blitar. Tahun lalu tidak pernah. Kan tahun lalu masih ketat. Rencana tahun ini berangkat lagi, mudik Lebaran. Ternyata dilarang. Mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Dia sebenarnya ingin berangkat mudik tanggal 5 Mei 2021. Sebab aturan pelarangan mudik berlaku tanggal 6 Mei sampai 17 Mei 2021. Tetapi hal itu tidak memungkin. “Maunya mudik sebelum dilarang, tanggal 5 Mei. Tapi kan pabrik belum libur. Saya sama istri masih harus masuk kerja. Pabrik sudah wanti-wanti, karyawan tidak boleh mudik. Katanya kalau sampai mudik dan kena covid, semua akan merepotkan,” paparnya.

Puguh memang mengeluh. Dia ingin sangat Lebaran tahun ini bisa mudik ke kampung halaman. “Kita orang kecil, Mas. Hanya karyawan pabrik. Ya kita manut dengan Pemerintah saja. Mereka orang pintar-pintar, sudah tahu baik-buruknya. Kita manut aturan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memang mengimbau masyarakat agar tidak melakukan mudik atau pulang ke kampung halaman. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mencegah dan mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya

Meski hal itu berat untuk dilakukan, Wali Kota Eri yakin, dengan tidak melakukan mudik atau pulang ke kampung halaman, maka secara tidak langsung seseorang itu telah menjaga kesehatan orang tua dan saudara-saudaranya.

“Insya allah dengan tidak mudik ini, maka kita menjaga orang tua kita, menjaga saudara kita. Agar kita tidak saling menularkan atau membawa dampak Covid-19 kepada keluarga kita. Karena kita tidak pernah tahu siapa di antara kita yang akan terjangkit Covid-19,” kata Cak Eri sapaan lekatnya, Jumat (7/5/2021).

Terlebih, Cak Eri menyebut, Bangsa dan Negara ini, khususnya Kota Surabaya, harus tetap dijaga agar penyebaran Covid-19 tidak kembali meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan tidak melakukan mudik dan tetap stay di Kota Surabaya.

“Sebagai warga negara yang baik, sebagai warga Surabaya yang baik, mari kita merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, dengan tetap berada di kota kita tercinta,” pesan dia.

Meski di Hari Raya Idul Fitri tahun ini tidak bisa bertatap muka langsung dengan orang tua atau saudara, namun Cak Eri berharap, warga Kota Surabaya tetap dapat merayakan Lebaran dengan penuh khidmat. “Mari kita bersama merayakan momen Hari Raya Idul Fitri ini dengan khidmat, dan tetap menjaga tali silaturahmi meskipun tidak bisa bertatap muka secara langsung,” tuturnya.

Ia pun meyakini, apabila warga bersedia mengikuti anjuran pemerintah dengan tidak melakukan mudik, maka penyebaran Covid-19 ini bisa segera selesai. “Insya allah sebagai warga Kota Surabaya, sebagai warga negara Indonesia, saya yakin, kulo (saya) yakin, njenengan kale kulo saget (anda dan saya dapat) menjaga kota ini dari pandemi Covid-19. Dengan tetap stay di rumah kita, di kota tercinta Surabaya,” ujarnya.

Di samping itu, Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini juga kembali mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Sebab, saat ini cara yang efektif untuk menekan penyebaran pandemi adalah dengan rajin mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjahui kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Terima kasih, saya titipkan Kota Surabaya kepada panjenengan (anda) semua, bagaimana menyelesaikan pandemi Covid-19 dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Dengan tetap ada di kota kita tercinta ini, dengan tidak melakukan mudik pada hari Lebaran,” pungkasnya. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar