Peristiwa

Larangan Mudik Bikin Pedagang Asongan Cemas

Pedagang Asongan di Terminal Rajekwesi Kabupaten Bojonegoro sedang menunggu pembeli.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sepinya penumpang bus di Terminal Rajekwesi Kabupaten Bojonegoro sudah mulai terasa sejak Ramadan. Bahkan mendekati Hari Raya Idul Fitri 1442 H kondisinya lebih memprihatinkan.

Hal itu diungkapkan salah seorang pedagang asongan di Terminal Rajekwesi Kabupaten Bojonegoro, Arifin warga Desa Sumodikaran Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro menjelang penyekatan larangan mudik lebaran, Rabu (5/5/2021).

“Sejak puasa sepi sekali. Jarang ada penumpang bus. Biasanya Ramadan akhir ini sudah mulai ramai, tapi sekarang malah sepi,” ujarnya.

Arifin mengungkapkan, sebelum puasa meski dalam situasi Pandemi Covid-19 dia masih bisa menjual minuman hingga dua dus. Atau pendapatannya masih di atas Rp100 ribu perhari. “Hari ini baru 10 botol dari pagi sampai sore,” jelasnya.

Kondisi seperti ini membuatnya cemas, apalagi dia tidak memiliki pekerjaan sampingan lain. Setiap hari dia hanya mendapat penghasilan dari berjualan minuman untuk penumpang bus. Dia mengaku sudah 25 tahun menjalaniĀ  pekerjaan sebagai pedagang asongan.

“Sebelumnya jualan koran, tetapi karena sudah kalah sama gadget tiga tahun terakhir beralih jualan minuman,” jelasnya.

Kondisi yang sepi seperti sekarang, kata dia, baru dirasakan tahun ini. Bahkan di tahun sebelumnya yang juga terjadi Pandemi Covid-19 tidak separah tahun ini. Kecemasannya ditambah adanya larangan mudik dan tidak beroperasinya angkutan umum. “Kalau tidak ada bus beroperasi otomatis tidak ada penumpang, dan tidak bisa jualan,” ujarnya.

Dia mengaku belum ada rencana untuk bekerja sampingan selama pelarangan mudik. Karena selama ini dia hanya bekerja setiap hari dari bus ke bus yang lain dan mangkal di Terminal Rajekwesi. “Kalau punya sawah mungkin bisa garap sawah,” pungkasnya. [lus/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar