Peristiwa

Lagi, Mahasiswa Sumenep Demo, Tolak Penambangan Fosfat

AMS demo ke Bappeda, Tolak Penambangan fosfat (foto/ temmy)

Sumenep (beritajatim.com) – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Sumenep (AMS), menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bappeda Sumenep di Jl. Trunojoyo, Selasa (09/03/2021).

Mereka menolak rencana penambangan fosfat di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumenep. Para mahasiswa menilai Pemkab Sumenep telah membuka ruang untuk penambangan fosfat, melalui review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2013-2033.

“Dalam Perda nomor 12 tahun 2013 tentang RTRW tahun 2013-2033, di pasal 40 ayat (2) tentang kawasan pertambangan, tidak relevan dengan kondisi Sumenep.
Pasal itu bertentangan dengan pasal 32 tentang kawasan rawan bencana alam dan pasal 33 tentang kawasan lindung geologi,” kata Koorlap aksi AMS, Abd. Bhasit.

Ia meyakini, penambangan fosfat akan menyebabkan tanah Sumenep kering dan gersang. Apabila penambangan fosfat tetap dilakukan, kerusakan lingkungan pasti terjadi.

“Kalau penambangan terus dilakukan, ancaman bencana alam cukup besar. Bahkan bukan tidak mungkin rakyat Sumenep akan terusir dari tanahnya,” ujarnya.

Sementara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Yayak Nurwahyudi mengatakan, aspirasi mahasiswa akan dijadikan bahan kajian.

“Di tingkat nasional, proses kajian diharapkan final bulan Juni 2021. Kami akan berkonsultasi ke provinsi, karena ini soal pertambangan. Kami tidak punya kemampuan soal tambang fosfat,” paparnya.

Dalam Peraturan Daerah Sumenep Nomor 12/2013 tentang RTRW Sumenep 2013–2033, ada delapan titik potensi tambang fosfat yaitu di Kecamatan Batuputih, Ganding, Manding, Lenteng, Guluk-guluk, Gapura, Bluto, dan Arjasa. Delapan titik ini dijukan penambahannya melalui perubahan Perda RTRW Sumenep menjadi 18 kecamatan. (tem/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar