Peristiwa

Nasin pedagang gusuran Tol

Kucurkan Rp 75 Juta, PT DLU Santuni PKL yang Tergusur

Surabaya (beritajatim.com) – Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang tergusur dan tidak memperoleh ganti tempat berjualan di Surabaya, disantuni oleh Perusahan pelayaran PT Dharma Lautan Utama (DLU)

Diketahui para pedagang ini lebih dari 20 tahun berjualan di ‘Exit Tol’ Banyuurip Surabaya. Jumlahnya ada 27 pedagang. Namun sayang, mereka harus tergusur tanpa ada alasan dan pemberitahuan sebelumnya. Puluhan pedagang tersebut digusur oleh pengelola jalan tol PT Jasa Marga pada 10 Juli lalu.

“Saya pribadi sebagai anggota dewan sudah memperjuangkan agar para pedagang ini tetap bisa berjualan di Exit Tol Banyuurip atau setidaknya mendapat ganti tempat berjualan,” ujar Bambang Haryo, pemilik PT DLU, Kamis (25/7/2019).

Dikatakan Bambang Harjo, pihaknya telah menyampaikan aspirasi tersebut ke Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mochamad Basoeki Hadimoeljono di Jakarta.

“Saya menyampaikan aspirasi para pedagang ini kepada Bapak Menteri PUPR sebelum lebaran Idul Fitri lalu, agar mereka tidak digusur dari tempatnya berjualan di Exit Tol  Banyuurip. Tapi ternyata setelah lebaran malah digusur,” ucapnya.

Di luar itu, para pedagang juga telah berusaha sendiri meminta bantuan ke Pemerintah Kota Surabaya dan DPRD Kota Surabaya agar setidaknya mendapat ganti tempat berjualan pascapenggusuran. Namun hal itu tidak pernah ada jawaban.

Bambang mengungkapkan, pihaknya tergerak untuk memberikan bantuan karena sudah tidak ada lagi kepedulian dari pemerintah. “Bantuan yang kami berikan berupa uang tunai Rp75 juta. Rp50 juta dari dana CSR PT DLU, serta Rp25 juta dari saya pribadi,” katanya.

Bambang mengatakan, para pedagang yang tergusur ini tergolong sebagai pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang semestinya mendapat dukungan, perhatian dan bantuan dari pemerintah.

“Mereka mulai berjualan di Exit Tol Banyuurip sejak 1985. Saat itu di lahan tersebut masih berupa rawa yang rawan tindak kejahatan. Mereka babat alas membersihkannya untuk dipergunakan sebagai tempat berjualan dan selama ini ikut membantu menjaga keamanan di wilayah tersebut,” katanya.

Suyanto, mewakili pedagang mengucapkan terima kasih atas santunan yang diberikan oleh PT DLU. “Lahan tempat kami berjualan di Exit Tol Banyuurip berjarak sekitar 10 meter dari pinggir jalan tol sehinga tidak mengganggu lalu lintas. Itu dulu diperbolehkan berjualan di sana atas izin dari pejabat PT Bina Marga meski secara lisan. Sekarang berganti pejabat dan kami digusur tanpa diberi ganti tempat berjualan,” ujarnya.

Uang santunan senilai total Rp75 juta dari PT DLU, lanjut dia, rencananya akan dibagi rata dengan 27 pedagang yang tergusur sebagai modal untuk melanjutkan usaha berjualan di tempat lain. “Sampai sekarang kami masih sedang mencari tempat berjualan yang baru,” ucap pedagang yang tinggal di Dukuh Kupang Barat Surabaya ini. [way/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar