Peristiwa

Kronologis Kasus Penguburan Mayat Bayi di Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Peribahasa ”anak polah bapa kepradah” (apa yang dilakukan anak, akan berimbas kepada orangtuanya), seperti peribahasa jawa itulah yang saat ini dialami oleh tersangka berinisial K (66). Demi menutupi aib anaknya yang berinisial WS (16) karena hamil diluar nikah, tindakan itu mengantarkan K meringkuk di balik jeruji besi saat masa tuanya.

”Bayi yang dikubur di persawahan itu merupakan hasil hubungan badan antara WS yang merupakan anak K, dengan pacaranya berinisial VA (19),” kata Kapolres Ponorogo AKBP. Arief Fitrianto, Rabu (5/2/2020).

Menurut data yang diperoleh dari kepolisian, kronologi penguburan bayi itu berawal pada Minggu (19/1/2020) sekitar pukul 11.30 WIB, WS melahirkan bayi laki-laki di ruang tamu rumahnya. Proses melahirkan itu dilakukan tanpa bantuan medis, WS hanya dibantu oleh bapaknya sendiri yang berinisial K, termasuk memotong tali pusar bayi itu dengan gunting.

”Karena bayi itu hanya diam, tersangka K berasumsi jika bayi laki-laki tersebut sudah meninggal,” katanya.

Kemudian tersangka K memandikan bayi itu dan membungkusnya dengan kain putih, tidak lupa juga ditali 3 kali seperti umumnya orang meninggal. Oleh tersangka K tidak langsung dikuburkan, bayi yang dibungkus kain itu diletakkan di lantai di dalam kamar rumah tersebut.

Baru pada Senin (20/1/2020) dini pukul 04.30 WIB, tersangka K menggendong mayat bayi itu kain selempang. Dengan membawa cangkul, tersangka berangkat dengan menggunakan sepeda pancal menuju tempat pemakaman umum (TPU). Namun belum sampai TPU, tersangka akhirnya menguburkan mayat bayi itu di saluran air dekat sawah milik tersangka.

”Alasan takut ketahuan orang kalau dikubur di TPU, akhirnya dikubur di saluran air itu. Dia melakukannya sendirian, tanpa bantuan orang lain,” pungkasnya. [end/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar