Peristiwa

Tim RSTKA Bantu Trauma Healing

Korban Gempa Mamuju Tinggal di Kandang Ayam

Surabaya (beritajatim.com) – Sebagian korban Gempa Sulawesi Barat dari Desa Dayanginna kabupaten Mamuju harus terpaksa mengungsi di kandang peternaakan ayam.

Di desa tersebut ada semacam rumah panggung berdinding kayu dan pilar-pilarnya setinggi sekitar tiga meter. Bagian atasnya dipetak-petak kecil. Ada tangga kayu yang menghubungkan tanah dengan bagian atas rumah itu.

Meski bentuknya mirip rumah panggung, sejatinya itu kandang peternakan ayam. Harusnya, ada kiriman ayam untuk dipelihara di kandang itu. Sebelum ayam dikirim, tiba-tiba terjadi gempa pada 14 Januari. Pengiriman ayam dibatalkan, kandangnya disulap jadi tempat pengungsian.

Lenniwati K, lurah Dayanginna, menjelaskan pihaknya dengan sangat terpaksa menyulap kandang ayam itu menjadi tempat pengungsian. “Kami sudah tidak ada lagi tenda. Sudah terpakai semua, tapi masih kurang,” ujar Lenni, Kamis (28/1/2021).

Bagian bawah kandang panggung berukuran sekitar 10 x 30 meter itu ditata menjadi tempat tinggal umum. Di antara tiang-tiang, dipasang tali dan terpal sebagai dinding. Ruang yang terbentuk dipilah-pilah lagi. Ada satu ruang untuk tempat sholat. Ada satu ruang untuk pertemuan umum. Lainnya disekat-sekat untuk ruang tidur. Di dekat tangga, dibuat tempat MCK berdinding terpal plastik.

Tentu saja, penyekatan ruang di antara kaki-kaki kandang panggung itu sifatnya darurat. Jika ada angin kencang, terpalnya bisa berkibar-kibar. Jika ada hujan, air bisa berhamburan ke mana-mana. Tidak ada tempat penyaluran air yang sempurna di sekitarnya sehingga becek.

Yang menarik, aroma eek ayam tidak tercium dari tempat pengungsian itu. Tampaknya, sebelum diubah jadi tempat pengungsian, tanahnya sudah dibersihkan. Tentu saja masih kurang higienis. Namun, apa boleh buat. Kondisinya memang darurat.

Meski hidup dalam pengungsian, anak-anak tampak senang. Saat tim trauma healing Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) menjenguk lokasi pengungsian, umumnya mereka menyambut dengan riang. Anak-anak juga bisa mengikuti ice breaking berupa game-game sederhana dan mengikuti afirmasi yang diberikan. Bahkan, mereka dengan riang menggambar di kertas tentang keinginan mereka bila dibolehkan pulang.

Syirin menggambar rumah dan dua tananam dengan tulisan ‘mena-nama bugan’ yang menunjukkan ia ingin menanam bunga setelah dibolehkan pulang. Aila menggambar rumah bercendela terbuka dengan dibubuhi tulisan ‘aku masuk rumah’. Arbani menggambar sosok anak berdiri, dengan tulisan ‘Arbani mau makan ice cream lagi.’ Dari 32 gambar yang terkumpul, tidak ada yang tampak menunjukkan ketakutan berlebih.

Yang tak kalah menarik, mereka saat antusias saat relawan RSTKA membagikan buku-buku sumbangan Rotary Club. Mereka berbagi buku kepada teman-teman sehingga masing-masing mendapat satu. Saat anak yang kecil membuka-buka halaman mencari gambar, anak yang lebih besar membaca dengan suara nyaring.

Meski demikian, ada juga yang memprihatinkan. Bu Lurah Lenniwati juga menunjukkan seorang wanita lansia yang butuh popok dewasa karena mengalami ambeyen berdarah. Penyakitnya kambuh saat ia harus mengambil dan mengangkat air dari sumber. Ada juga beberapa orang yang sakit bahkan sebelum gempa. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar