Peristiwa

Konflik antar Umat Khonghucu, Penilik KSB Tuban Lapor MATAKIN

Tuban (beritajatim.com) – Ketua Penilik dari Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio (KSB) Tuban membenarkan jika terjadi konflik internal antar umat Khonghucu di kelenteng tersebut yang mengakibatkan ditutupnya tempat kebaktian untuk umat tersebut, Sabtu (19/1/2019).

Alim Sugiantoro, yang merupakan penilik dari KSB Tuban itu menyayangkan dengan terjadinya konflik antar umat Khonghucu itu. Pihaknya masih menunggu keputusan pengurus TITD Kwan Sing Bio Tuban dan juga Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) pusat untuk mencari solusinya.

“Yang penting mereka kondusif dulu, makanya ini (Lithang) sementara ditutup terlebih dahulu. Saya telah melaporkan ini ke MATAKIN pusat,” kata Alim Sugiantoro, selaku Ketua Penilik TITD Kwan Sing Bio Tuban itu.

Menurutnya, penutupan itu sendiri lantaran keberadaannya Lithang itu berada di dalam area kelenteng Kwang Sing Bio dan dinilai selama ini sering terjadi kisruh saat kebaktian. Sehingga, jika sampai terjadi sesuai hal yang tidak diinginkan maka yang bertanggungjawab adalah Pengurus dan juga Penilik kelenteng tersebut.

“Kalau masalah itu di luar Kwan Sing Bio yang kita tidak ada ikut campur. Karena ini ada di dalam Kwan Sing Bio kita harus ikut nangani,” lanjutnya.

Dengan sudah dilaporkannya kisruh antar tokoh dari umat Khonghucu di Tuban ke MATAKIN pusat itu, pihak penilik dari kelenteng yang ada jalan RE Martadinata, Kota Tuban itu berharap masalah itu segera bisa diselesaikan. Alim menyatakan bahwa saat ini laporan ke MATAKIN itu baru diproses dan belum diketahui bagaimana kepetusannya.

“Kita masih menunggu hasil keputusan lebih lanjut. Pada permasalahan ini muaranya dari tokoh, sehingga mereka harus bisa melakukan intropeksi diri,” harapnya.

Sementara itu, terkait dengan adanya pendeta Khonghucu yang diberhentikan itu, Alim membenarkan jika pendeta tersebut ketika memberikan khotbah sering berbicara dengan kata-kata kasar. Bahkan, dikatakan bahwa pendeta tersebut sering menjelek-jelakkan umatnya yang ikut kebaktian.

“Memang pendeta itu ngomongnya kasar sekali, itu sudah sejak pada tanggal 19 Oktober 2018 lalu. Seharusnya sebagai pendeta itu kan harus bisa memberikan solusi yang baik,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan umat Khonghucu yang ada di Tuban tidak bisa melakukan Kebaktian di Lithang Konfusiani yang ada di TITD Kwan Sing Bio. Puluhan umat terpaksa kebaktian di depan pintu lantaran Lithang tersebut ditutup dengan cara dirantai.[mut/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar