Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Kisah Heroik Juragan Galon Shin Chuan, Sempat Tutup Rolling Door untuk Melindungi Istri

Toko Shien Cuan di Jalan Manukan Tama A3/6 yang kembali buka.

Surabaya (beritajatim.com)-  Jumat (07/12/2022) pagi menjadi hari yang kelam untuk Wong Lay Fong, istri korban pembunuhan Shien Cuan juragan galon Manukan Tama.

Pria berumur 61 tahun tersebut tewas usai menerima 5 pukulan paving dari Nurhuda (31) di bagian kepala.

Ditemui beritajatim.com pada Senin (09/05/2022), Wong Lay menceritakan malam itu, tiba-tiba listriknya mati. Ia yang saat itu belum tertidur lantas berteriak untuk bertanya kepada suaminya.


“Saya nanya kenapa listriknya mati, kebetulan suami sedang di kamar sebelah,” ujarnya.

Ia pun mendengar suaminya menyahut dan bunyi pintu dibuka tanda suaminya keluar kamar dan memeriksa saklar. Tak berselang lama, suaminya berteriak di lantai bawah.

“Saya awalnya gak ngeh, tapi makin rame saya turun dan lihat suami saya sudah berusaha menutup pintu. Setelah itu ia terkapar di belakang etalase tokonya,” imbuhnya sembari menahan tangis.

Saat itu, Shin Chuan menyuruh istrinya naik dan mengunci kamar. Ia pun menuruti permintaan suaminya karena takut. Sebelum naik, ia sempat melihat kunci gembok rolling door tergantung di celana pendek suaminya.

Sambil menahan tangis, Wong Lay Fong yang saat ditemani saudaranya lantas mengalihkan pembicaraan. Wong Lay Fong seperti tidak ingin mengingat malam suaminya dibunuh. Ia lantas bercerita dan menduga, suaminya dibunuh lantaran Huda menyimpan dendam kepada keponakannya yang merupakan mantan bos dari Huda.

“Saya tidak saling kenal dengan tersangka. Namun diketahui pelaku adalah mantan pegawai toko sendal keponakan saya di Probolingo,” ungkap dia.

Wong dengan nada suara meninggi menjelaskan, Huda dipecat lantaran sering melakukan kesalahan yang sama yakni menghilangkan uang toko.

“Gak mungkin tiba tiba dikeluarkan kalau tidak ada alasan. Pelaku itu kerap mencuri uang keponakan saya, tidak dilaporkan ke polisi, dan sudah ditegur beberapa kali tapi tetap saja” kata Wong dalam pengakuannya.

Uang yang dicuri tersangka itu nominalnya beragam, mulai satu juta hingga paling banyak 9 juta. “Puncaknya pada September pelaku dikeluarkan,” imbuhnya.

Padahal, keterangan yang didapat Wong Lay Fong, tersangka sudah 9 tahun lebih bekerja ikut keponakannya dan tidak ada masalah. Bahkan, Huda menjadi kepala toko dan dipercaya menjadi pimpinan di Toko Sandal Probolinggo.

“Selama 9 tahun bekerja itu baik pekerjaannya dan perilakunya. Setelah berlangsung 10 tahun pelaku kerap mencuri uang. Katanya buat beli minuman keras (miras) bermerek,” paparnya.

Sementara, saat ditanya terkait keterangan Nurhuda bahwa penganiayaan tersebut karena dorongan seseorang yang bernama Andre, Hal itu dibantah oleh Wong Lay Fong, sebab ia yakin itu hanya alibi tersangka supaya hukumannya diringankan.

“Gak ada pelaku lain, pelakunya hanya tunggal itu. Kalau dia ngaku disuruh orang, itu hanya ngaku ngaku saja,” tegasnya.

Terakhir, ia menutup pembicaraan dengan kesal lantaran masyarakat sekitar dan tetangganya sempat menduga bahwa yang menghabisi suaminya adalah ia sendiri. Namun, hasil penyelidikan polisi lantas membersihkan namanya dari mata tetangga.

“Logikanya, kalo saya mau bunuh tinggal saya racun. Makanya saya sempat kesal juga,” pungkasnya. (ang/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar