Peristiwa

Kirab Ribuan Santri Meriahkan Harlah ke-50 Ponpes Al Makbul Malang

Malang (beritajatim.com) – Ribuan santri dan alumni Pondok Pesantren Raudlotul Muhsinin atau Al Makbul, Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Sabtu (20/4/2019) siang menggelar Kirab Santri dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-50 Ponpes Al Makbul.

Kirab berlangsung meriah dan semarak. Satu persatu para alumni dan santri Ponpes menunjukkan kreatifitasnya selama kirab. Tema cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia pun mewarnai peserta kirab.

Pada barisan pertama, peserta kirab diisi sejumlah mobil kuno seperti Willys dan Jeep yang ditumpangi kerabat Pesantren Al Makbul. Disusul rombongan delman hias, kereta kelinci, dan pasukan santri berpakaian tentara lengkap dengan senjata mainan dan alat tempur berupa tank.

Turut memeriahkan kirab yakni masyarakat sekitar Desa Kuwolu berjumlah ribuan orang. Jalan raya desa setempat sepanjang 1 kilometer pun, tertutup total dengan agenda Kirab Santri dalam Harlah ke-50 Ponpes Al Makbul ini.

Warga desa pun sama-sama menunjukkan kreatifitasnya dengan dandanan busana tradisional hingga kostum cosplay. Miniatur Ka’bah, kiblat umat Islam sedunia, turut meramaikan acara kirab oleh santri pondok.

Ketua Alumni Ponpes Raudlotul Muhsinin (Al Makbul) H.Ahmad Basori mengatakan, kirab santri memperingati Harlah Ponpes Al Makbul adalah yang pertama kali sejak Pesantren ini berdiri pada tahun 1969 lalu.

“Ini perayaan harlah pertama kalinya dengan kegiatan kirab santri dan alumni. Peserta selain dari Ponpes induk di Bululawang, juga diikuti dari seluruh koordinator kecamatan dari berbagai daerah. Ada juga peserta dari Jawa Tengah dan DKI Jakarta,” ungkap Ahmad Basori, Sabtu (20/4/2019) pada beritajatim.com seusai kirab berlangsung.

Menurut Basori, jumlah peserta kirab dari Pondok Induk Al Makbul sebanyak 1.800 putra dan putri. Lalu ditambah peserta dari seluruh santri dan alumni di setiap koordinator kecamatan se Malang Raya. Jakarta dan Jateng. “Ada lagi peserta jamaah taklim rutin setiap minggu dan juga masyarakat sekitar. Total peserta kurang lebih 3 ribu orang. Ini semua ide dari para santri dan alumni,” beber Basori.

Ia melanjutkan, tujuan Kirab Santri tahun ini, untuk menyatukan seluruh alumni dan juga santri. Fokus pondok yang eksis mengajarkan kitab kuning, selama ini didukung seluruh santri, alumni dan jamaah rutin.

Sementara pesan dalam kirab santri ini, agar seluruh santri dan alumni tetap mengutamakan akhlakul karimah, wathoniyah dan bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. “Kami sadar selama ini Ponpes Al Makbul adalah basis NU terbesar dan jarang diketahui masyarakat umum. Dengan acara ini, kami ingin berpesan agar seluruh lapisan masyarakat untuk setia dan menjaga NKRI,” urainya.

Basori menambahkan, meski Kirab Santri baru digelar pertama kali, namun bisa berjalan tertib dan dihadiri ribuan orang. “Kami bisa dan coba menunjukkan budaya dan perbedaan dalam negara, terwujud dalam kirab hari ini. Perbedaan harus menjadikan kita tetap damai dan bersaudara sesama anak bangsa,” pungkas Basori.

Pesantren Al Makbul adalah Pesantren Salafiyah yang masih eksis mengajarkan kitab kuning sampai detik ini. Pendiri Pesantren Al Makbul yakni KH. Muhsin Syafi’i. Sepeninggal Kiai Muhsin, pemangku Pondok Pesantren Salaf terbesar di Kabupaten Malang ini, diteruskan oleh dua orang putranya yakni KH. Suadi Muhsin dan KH.Lukman Muhsin.

Jumlah santri aktif putra di Pesantren Al Makbul sampai hari ini berkisar 1000 orang. Sementara santri putri sebanyak 800 orang. Satu orang santri, minimal menghabiskan waktu selama 12 tahun untuk mempelajari ilmu agama termasuk kitab kuning. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar