Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Hari Jadi ke-104 Kota Mojokerto

Kirab Mojo Bangkit Meriahkan Perayaan Hari Jadi Kota Mojokerto ke-104

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari bersama suami menaiki Kereta Kencana dalam Kirab Mojo Bangkit

Mojokerto (beritajatim.com) – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari membacakan Ikrar Mojo Bangkit saat Kirab Mojo Bangkit digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto. Mojo Bangkit yang digelar di Jalan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini merupakan rangkaian Hari Jadi ke-104 Kota Mojokerto.

Berikut isi Ikrar Mojo Bangkit :

Saya INDONESIA
Kami INDONESIA
Kita INDONESIA

Saya PANCASILA
Kami PANCASILA
Kita PANCASILA

Kita ber-BHINNEKA TUNGGAL IKA
Kita meneguhkan, menjaga PERSATUAN dan KESATUAN NKRI

BUMI MOJOKERTO
Sabtu Pahing, 25 Juni 2022

Ikrar dibaca Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto tersebut yang diikuti undangan dan masyarakat yang hadir. Sebelum ikrar dibaca, prosesi pengalungan untaian bunga melati kepada Wali Kota Mojokerto dan suami serta tari massal flasmop Remo Jugag yang dilakukan oleh 204 anak-anak dan diikuti Wali Kota dan tamu undangan menandai Kirab Mojo Bangkit digelar.

Dalam Kirab Mojo Bangkit tersebut menampilkan mulai era Majapahit dimulai dari Payung Gringsing yakni pasukan pembawa payung yang menandakan rombongan kebesaran akan lewat. Disusul lambang Kerajaan Majapahit yakni Surya Majapahit, kemudian pasukan umbul-umbul gulo klopo.

Yang merupakan pasukan pembawa pendeta kebesaran Kerajaan Majapahit. Kemudian disusul Barusan Mbok Ireng yaitu kelompok abdi dalem yang membawa bunga dan wewangian. Dilanjut Cucuk Lampah yakni barisan pembuka jalan disusul Kereta Kencana yang merupakan kendaraan utama Raja dan Ratu Majapahit.

Dan disusul rombongan keresian yakni barisan pemuka agama. Setelah era Kerajaan Majapahit masa surut, wilayah bekas pusat kekuasaan Majapahit dikenal nama Japan yang pada awalnya tunduk dalam kekuatan Kerajaan Mataram. Dalam era Kadipaten Japan menampilan rombongan Adipati Japan, Bendi Adipati dan pengiring Adipati.

Setelah era Kadipaten Japan kemudian memasuki era penjajahan. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan Mojokerto mengalami perkembangan terutama adanya beberapa pabrik gula. Rombongan tersebut juga menjadi eksploitasi ekonomi yang diawali dengan adanya tanam paksa yang menyengsarakan petani.

Tahun 1942 Jepang masuk Indonesia yang menyebut sebagai saudara tua membebaskan bangsa Asia dari belenggu penjajahan. Namun kedatangan mereka justru semakin menyengsarakan penderitaan pribumi hingga lahirkan Pembela Tanah Air (PETA). Para pemuda-pemudi Islam membentuk Barisan Hizbullah.

Kemudian menampilkan jaman kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan disambut dengan suka cita. Kedatangan pasukan Sekutu yang membawa serta tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia membuat rakyat bangkit melawan.

Kirab Mojo Bangkit mengambil start di Jalan Surodinawan Kecamatan Prajurit Kulon dan berakhir di Pendopo Sabha Kridha Tama Rumah Rakyat di Jalan Hayam Wuruk Kecamatan Magersari. Wali Kota dan suami ikut dalam kirab dengan menaiki kereta kencana. Dalam kegiatan tersebut melibatkan masyarakat Kota Mojokerto sebanyak 700 orang.

Ketua Hari Jadi ke Kota Mojokerto, Amin Wachid mengatakan, sebanyak 700 peserta yang berasal dari seniman, sanggar budaya, siswa-siswi SMP dan SD se-Kota Mojokerto serta para Lurah, Camat dan RT/RW se-Kota Mojokerto. “Kirab Mojo Bangkit diharapkan masyarakat bisa terhibur di peringatan Hari Jadi ke-104 Kota Mojokerto,” ungkapnya, Sabtu (25/6/2022). [tin/beq/adv-pemkot-mojokerto]


Apa Reaksi Anda?

Komentar