Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Kiprah Nasional, Gus Yahya: Sayang Jika Khofifah Hanya di Muslimat NU

KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyayangkan jika Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa hanya berkiprah di Muslimat NU. Khofifah sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU selama 20 tahun atau empat periode kepengurusan.

“Itu luar biasa itu. Bahwa Bu Khofifah bertahan selama empat periode (memimpin Muslimat NU, red) hanya bisa disaingi oleh Bu Nyai Mahmudah Mawardi. Bu Nyai Mahmudah memimpin Muslimat NU selama 26 tahun masa kepengurusan. Saya pribadi menyayangkan kalau Bu Khofifah ‘ublek-ublek’ Muslimat saja. Bu Khofifah saya harap bisa menjangkau lebih luas lagi, tak hanya Muslimat,” kata Gus Yahya kepada wartawan usai Silaturahim PBNU, PWNU se-Indonesia dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (16/2/2022) malam.

Khofifah memimpin muslimat sejak 2000. Pada November 2016, Gubernur Jawa Timur itu kembali terpilih menjadi Ketum PP Muslimat NU periode 2016-2021. Gus Yahya mengatakan, ketokohan Khofifah sebaiknya tidak hanya dimanfaatkan kalangan Muslimat. “Sayang jika hanya ada di Muslimat, harus berkiprah di level nasional agar manfaatnya lebih luas,” jelasnya.

Ia yakin, Muslimat tidak akan melupakan jasa Khofifah yang sudah memimpin selama lebih dari 20 tahun.
“Bu Khofifah itu panglimanya Muslimat NU selama lebih dari 20 tahun. Jadi tidak akan dilupakan,” ujarnya.

Pada kepengurusan PBNU periode 2022-2027, Khofifah menjabat sebagai salah satu ketua bersama Alissa Qotrunnada Wahid yang merupakan putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Khofifah dan Alissa Wahid disebut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua PBNU.

Gus Yahya pun membeberkan alasan mengajak Khofifah dan Alissa Wahid di dalam kepenguruan PBNU periode 2022-2027. Mereka, kata Gus Yahya, dipilih karena kebutuhan organisasi dan kapasitasnya.

Ia membantah, pemilihan kedua perempuan itu berdasarkan faktor keseteraan gender. “Kebutuhan pada sosok Khofifah tidak lain karena cita-cita kebangkitan NU di bidang teknokrasi. Tidak ada yang berpengalaman lebih baik dalam bidang ini selain Khofifah,” katanya. [tok/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar