Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Khofifah: Korban Erupsi Semeru Tak Boleh Terlalu Lama di Pengungsian

Lumajang (beritajatim.com) – Gubernur Khofifah Indar Parawansa berharap masa tanggap darurat penanganan bencana erupsi Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, akan selesai dalam waktu 14 hari dan tidak akan ada perpanjangan.

Khofifah berharap, para pengungsi ini memiliki opsi tempat tinggal dan tidak terlalu lama tinggal di lokasi pengungsian. “Pengungsian ini tidak boleh terlalu lama. Hunian sementara lebih memungkinkan untuk bisa memberikan tempat bernaung dan berlindung lebih secure,” katanya, dalam rapat dengan perwakilan relawan, di Kantor Kecamatan Pasirian, Selasa (7/12/2021) malam.

Ada testimoni seorang perempuan pengungsi di salah satu stasiun televisi nasional yang menarik perhatian Khofifah. “Ibu ini karena merasa tempat (pengungsian) berimpit, maka mengambil posisi tidur di luar (ruangan),” katanya.

Pengungsi yang memilih tidur di luar ruangan mengambil risiko kedinginan dan akan mempengaruhi daya tahan tubuh jika berlangsung berhari-hari. Apalagi jika pengungsi itu masih anak-anak. “Oleh karena itu, saya minta tolong dibantu pemetaan. Jadi di area pengungsian pun seyogyanya area yang sangat memungkinkan anak-anak bisa tinggal lebih ‘convenient’ (nyaman),” kata Khofifah.

“Monggo kita petakan. Hari ini kita menata pengungsian. Kita petakan titik-titik mana, kekurangannya apa dan seterusnya. Memang ada opsi (tinggal) di Batalyon Infantri 527, ada opsi di sekolah. Saya ngomong ke Pak Bupati, ayo kita hitung ini butuh berapa bulan sambil menunggu Huntara (Hunian Sementara) ini siap,” kata Khofifah.

Gus Aab, salah satu relawan, mengusulkan agar pembuatan huntara tak perlu menunggu selesainya masa tanggap darurat 14 hari. “Karena pengungsi ini risih, tidur dengan orang yang tidak dikenal, bukan dengan muhrimnya, dengan bukan keluarganya dalam satu tenda. Mereka butuh privasi,” katanya.

Gus Aab mengusulkan agar huntara tidak dibuat dengan model barak seperti saat penanganan korban bencana gempa bumi di Palu dan Lombok. “Mereka rata-rata tidak mau menempati, itu di Palu maupun di Lombok. Kenapa tidak mau ditempati? Mereka mengatakan, ‘kalau kemarin gempa tektonik, tapi kalau di huntara sering terjadi gempa sekstonik. Kita sungkan untuk tinggal di situ’. Privasi mereka terganggu. Jadi kalau bisa untuk satu keluarga satu huntara,” katanya. Sejumlah lembaga sudah bisa bergerak cepat untuk membangun huntara jika lokasi sudah ditentukan.

Khofifah minta kebutuhan bayi dan balita diperhatikan. “Mungkin bisa dipetakan. Sebaran pengungsian ini kan bertambah, karena harus dilonggarkan, jangan terlalu padat di satu titik,” katanya.

“Untuk lokasi bagi anak-anak bisakah dikomunikasikan dengan pengelola pengungsian itu. Lansia juga begitu. Kemudian kita identifikasi kebutuhan makanan anak-anak. Dapur umum ini kan untuk makanan dewasa. Untuk anak-anak tetap disiapkan air hangat (water heater), agar setiap saat bayi dan balita yang membutuhkan makanan khusus bisa mengakses air panas di situ,” kata Khofifah. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati