Peristiwa

Kenakan Kostum Daun dan Tumbuhan, Ki Ompong Sudarsono Mainkan Wayang Blang-Bleng

Ki Ompong Sudarsono Dalang nyentrik asal Kediri

Kediri (beritajatim.com) – Seorang dalang berpenampilan nyentrik. Gaya ya terkesan eksentrik dan sangat luwes. Ialah ki Ompong Sudarsono.

Dia sengaja memakai kostum dan aksesoris dari daun dan tumbuh tumbuhan di sekujur tubunya. Sesekali ia mengajak anak anak yang melihat pertujukanyan tersebut berinteraktif berkomunikasi secara langsung.

Ki Ompong Sudarsono mengaku jika pentas wayang yang ia tampilkan tersebut ia namakan wayang blang bleng. Wayang blang bleng miliki arti apa pun dimana unsur yang dipentaskan dalam pertunjukan bisa semuanya masuk.

“Artinya masuk penyajianya,  masuk pementasanya dan masuk situasional nya, ” terangnya saat pentas di Sekolah Alam Ramadani di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, Rabu (10/3/2021).

Saat memainkan wayang, ia memperkenalkan tokoh pewayangan. Ia juga ingin mengajak mereka berdoa sekaligus bersyukur kepada alam baik susah mau pun bahagia.

“Tema yang saya angkat tentang bocah serawung alam (bergaul dengan alam) dan bocah serawung wayang (bermain dengan wayang). Sasaran pertunjukan ini semuanya, baik anak anak, dewasa mau pun petani, ” tambahnya.

Ia menilai apa pun pertunjukan wayang yang ditampilkan dan dikemas dengan berbagai cara apa pun, semuanya tersirat pesan moral tentang estetika, budaya, akhlak, budi pekerti dan cinta.

Karena penonton yang dihadapi masih tergolong bocah, maka cerita pertunjukan yang dipilih cenderung mengenai tentang alam.

“Sengaja saya menghindari cerita tentang konflik, sedih, konflik politik, serta konflik asmara. Suatu saat saya yakin anak anak akan lebih mengenal wayang sesungguhnya yakni wayang pakem, ” ceritanya.

Tokoh pewayangan yang ditampiikan dalam pentas  diantaranya Punakawan, Brotoseno dan lainya. Agar edukasi yang diberikan lebih mengena tepat sasaran, maka konsepnya panggung mau pun tokoh pewayangan ia rubah.

” Itu tadi ada semar, punakawan, brotoseno. Cuman konsepnya saya rubah. Baik bentuknya ada polisi, ada hansip, juga ada petani. Konsep tata panggungnya, memang sengaja kita pecah pecah. Karena biar timbul pertanyaan, karena pertanyaan bagian dari ilmu,” jawabnya.

Selama pergelaran pentas wayang, Ki Ompong Sudarsono sudah melalang buana di berbagai daerah di 50 kota. Diantaranya Jawa Tengah, pekalongan, Batam, Pemalang, Tangerang, Karimun Jawa, Indra Mayu, Tulunganggung, Blitar dan Kediri.

Ki Ompong Sudarsono bersama anak-anak

Bahkan 17 Maret 2021 nanti, ia berencana untuk kembali pentas di Pamekasan Madura.  Selama menjadi dalang wayang kontemporer, profesinya tersebut ia tekuni kurang lebih selama  4 tahun.

“Kalau menekuni secara totalitas, ini kan sifatnya kontemporer inggih bekisaran 4 tahun. Sebelumnya wayang clasik. Tapi saya menganggap kalau wayang clasic terus pengembanganya seperti apa,” terusnya.

“Ibaratnya saya berbicara tentang tradisi, Tradisi apa hanya dijaga saja,  kan harus dikembangkan. Ambil contoh sampyn kan orang media, kalau dulu ngetik pakai mesin ketik dan ngerekam pakai kaset pita, sekarang kan nggak, begitu juga dengan wayang,” tambahnya.

Pertunjukan yang digelar oleh Ki Ompong Sudarsono bersifat sosial. Ia  secara gamblang  bercerita terkadang ia berangkat ke suatu daerah menggunakan sepeda motor, bus bahkan sampai gandol truk (numpang naik truk). Semuanya itu ia biayai sendiri.

Dia  mengungkapka jati dirinya jika ia adalah  asli kelahiran Blitar Jawa Timur. Cuma ia bersama keluarga sekarang berdomisili di Temanggung Jawa Tengah. Ki ompong Sudarsono mengaku, ia pernah ikut dan belajar ilmu pewayangan dari dalang kondang ki Manteb Sudarsono.

“Saya ngenger, murid pak Manteb Di Solo Karang Pandan. Bapak gak pernah bilang kowe harus dadi dalang kondang. Cuma beliau beri wejangan urip harus baik dan jujur, suka menyenangkan orang lain lewat pementasan wayang,” tutupnya. [nm/ted].



Apa Reaksi Anda?

Komentar