Peristiwa

Kemensos Rintis Gerakan Siswa Siaga Bencana

Anak-anak sekolah mendapatkan pelatihan untuk siaga bencana agar siap dan bertindak aman saat bencana terjadi. [Foto/biro humas Kemensos]

Surabaya, (beritajatim.com) – Kementerian Sosial RI merintis gerakan Siswa Siaga Bencana untuk mengajak generasi muda terlibat sejak dini dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Sejak peluncuran TMS oleh Presiden Joko Widodo di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, pada 18 Februari 2019, Kemensos telah melakukan edukasi mitigasi bencana yaitu Tagana Masuk Sekolah (TMS).

“Dari sini kemudian muncul gerakan Siswa Sadar Bencana,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat melalui rilis Kemensos, Senin (30/9/2019).

Presiden, lanjutnya, mengintruksikan kepada Menteri Sosial, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencan untuk melakukam edukasi bencana. Hal ini ditindaklanjuti dengan melaksanakan TMS di sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri. Sebab, sebagian besar negara kita rawan bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir bandang dan lain-lain.

“Kita tidak bisa menghindar dari bencana karena bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah mitigasi bencana,” katanya.

Harry Hikmat menjelaskan, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

“Dengan menyiapkan generasi muda dalam menghadapi ancaman bencana, maka risiko bencana dapat kita tekan seperti jatuhnya korban jiwa dan kehilangan harta benda,” tutur Harry.

Tagana Masuk Sekolah di Pasuruan merupakan bagian dari acara Jambore dan Bakti Sosial Tagana Nasional 2019 yang berlangsung di Jawa Timur, mulai 25 sampai 28 September lalu.

Sosialisasi dimulai dengan pengenalan Tagana kepada para siswa. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi pengetahuan tentang bencana dan cara pertama penyelamatan diri ketika terjadi bencana melalui simulasi. Para siswa diajarkan cara menyelamatkan diri ketika terjadi gempa baik di dalam kelas maupun menuju titik kumpul yang aman.

Selain itu Tagana mengajarkan pengurangan risiko bencana dengan merawat lingkungan, salah satunya dengan menanam bibit pohon di lingkungan sekolah. Setiap siswa menanam satu biji pohon asem jawa. Total 200 bibit pohon yang ditanam. Sebelumnya bibit ini disediakan oleh Tagana Kabupaten Pandaan.

“Ini sesuatu yang baru yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Anak-anak sangat antusias dan kami menyambut baik gerakan Siswa Sadar Bencana melalui Tagana Masuk Sekolah. Sosialisasi dan edukasi semacam ini harus dilakukan secara rutin,” kata salah satu guru, Arlita.

Sementara itu bagi para siswa, edukasi kebencanaan ini memberi wawasan baru. Kegiatan yang dilakukan dengan praktek langsung di lapangan membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

“Sekarang saya jadi tahu bagaimana menyelamatkan diri saat terjadi gempa setelah tadi ikut simulasi bersama Tagana. Semoga kegiatan ini bisa dilakukan lagi untuk menambah pengetahuan tentang kebencanaan,” kata Dinda, siswi kelas X.

Selain TMS, kegiatan Jambore dan Bakti Sosial Tagana Nasional 2019 diisi pula dengan penyerahan bantuan dan pelayanan di Panti Sosial Tresna Werda Kabupaten Pasuruan. Bantuan yang diserahkan berupa popok sekali pakai untuk dewasa, kursi roda, alat bantu tongkat, dll. [man/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar