Peristiwa

Kemarau, Puluhan Desa di Gresik Manfaatkan Air Telaga Waduk

Gresik (beritajatim.com) – Kesulitan air bersih melanda puluhan desa di wilayah Kecamatan Benjeng, dan Kecamatan Cerme, Gresik. Akibat musim kemarau itu, sebagian besar warga terpaksa memanfaatkan air telaga waduk. Pasalnya, air sumur di rumahnya telah kering, dan berasa asin.

Krisis air bersih yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir, menyebabkan warga harus berburu air bersih di telaga. Dengan membawa gerobak berisi jirigen air. Warga sangat antusias mengisi air bersih. “Selama dua bulan kami memang sedang mengalami krisis air bersih,” ujar Supaidi (54) warga Desa Kalipadang, Kecamatan Benjeng, Gresik, Jumat (26/07/2019).

Dampak kekeringan itu, juga membuat sebagian besar warga terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra sekitar Rp 200 ribu per minggunya. Biaya tersebut buat membeli air bersih dari pedagang air keliling.

Sebelumnya, karena kepepet warga dengan sangat terpaksa memanfaatkan air telaga untuk memasak, mencuci, dan minum. Kondisi kesulitan air bersih di wilayah Kecamatan Benjeng, dan Cerme rutin terjadi di setiap tahun saat musim kemarau.

Terkait dengan musim kemarau ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, Tarso Sagito menuturkan pihaknya sudah mendata sejumlah daerah yang mengalami kekeringan. “Kami sudah mendata hal ini terkait dengan dropping air bersih,” ujarnya.

Ia menambahkan, kendati mengalami musim kemarau. Tidak semua daerah atau desa kena dampak kekeringan. Sebab, masih ada beberapa desa yang masih memiliki sumber air meski tidak terlalu banyak. “Memang ada beberapa desa yang masih memiliki cadangan air. Musim kemarau saat ini tidak terlalu panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. dny

BPBD Gresik mencatat ada 62 desa yang tersebar di 8 kecamatan mengalami krisis air bersih. Dari delapan kecamatan itu diantaranya Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Menganti, Duduksampeyan, Kedamean, Bungah, dan Kecamatan Sidayu. [dny/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar