Peristiwa

Kemarau Panjang, Kolam Segaran di Mojokerto Kering

Kondisi Kolam Segaran yang kering. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Akibat kemarau panjang, Kolam Segaran yang terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kering. Air kolam peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut surut hingga kering sejak tiga bulan yang lalu.

Kekeringan kali ini terbilang terparah dibandingkan pada tahun sebelumnya. Sebagian besar dasar Kolam Segaran berupa tanah atau lumpur tampak mengering. Hanya sebagian kecil kolam yang masih nampak airnya, tepatnya pada sisi utara dan sisi timur kolam.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho membenarkan, Kolam Segaran yang memiliki luas 325 x 175 meter dengan kedalaman 2,88 meter kering sejak bulan September lalu.

“Ya, Kolam Segaran kering sejak September 2019 lalu. Belum ada kajian secarah ilmiah soal kekeringan di Kolam Segaran, selain kemarau panjang, dimungkinkan dua saluran air kini tak lagi menyalurkan air ke kolam, karena salurannya tertutup,” ungkapnya, Sabtu (2/11/2019).

Wicaksono menjelaskan, Kolam Segaran ditemukan pada 1926 dalam kondisi tertimbun tanah. Kolam purbakala ini dipugar pertama kali pada 1966 dan pemugaran kedua dilakukan pada 1974. Kolam Segaran memiliki saluran buang pada sisi utara.

“Di sisi selatan kolam, terdapat saluran yang airnya masuk ke kolam. Kolam Segaran dibangun untuk waduk dan penampungan air untuk penanganan irigasi, dari sisi utara air menuju ke sungai dan selanjutnya menuju ke sawah-sawah warga,” katanya.

Air di Kolam Segaran, lanjut Wicaksono, berasal dari Situs Balong Bunder yang terletak sekitar 100 meter di sebelah selatan kolam. Namun banyak kanal, saluran air masuk ke kolam segaran yang sudah tertutup tanah atau beralih fungsi.

“Mungkin itu bisa menjadi penyebab. Bisa juga kekeringan di Kolam Segaran karena degradasi tanah di sisi selatan kolam. Apalagi di wilayah Trowulan banyak produksi bata merah dengan bahan baku tanah,” jelasnya.

Wicaksono menambahkan, fenomena keringnya Kolam Segaran terjadi saat musim kemarau dalam 3 tahun terakhir. Sebelumnya-sebelumnya, kolam peninggalan Kerajaan Majapahit ini tetap terisi air meski memasuki kemarau.

“Kalau cerita warga turun-temurun menyebutkan, jika Kolam Segaran sebagai tempat pembuangan. Dulu digunakan sebagai tempat menjamu tamu kerajaan dan kolam digunakan untuk pembuangan bekaka. Seperti piring emas dan lain,” paparnya.

Sementara itu, salah satu warga, Sulastri (36) mengatakan, kekeringan yang terjadi di Kolam Segaran pada musim kemarau saat ini, tergolong yang terparah jika dibandingkan pada dua tahun sebelumnya.

“Tahun ini yang terparah, biasanya masih ada airnya meski musim kemarau. Saat kering seperti ini, banyak warga yang cari ikan karena lebih mudah kalau airnya surut. Kalau ada airnya di pancing tapi kalau surut langsung pakai jala,” tandasnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar