Peristiwa

Kisah Kesaksian Mantan Teroris (2)

Keluar dari NII Setelah Sang Komandan Punya 9 Istri

Jember (beritajatim.com) – Awalnya saat Negara Islam Indonesia mengalami friksi dan sebagian memilih keluar untuk mendirikan Jamaah Islamiyah, Kurnia Widodo memilih setia.

Kurnia tak mengikuti Jamah Islamiyah dan tetap di NII. Namun akhirnya kesetiaannya tak bertahan lama. Ia memilih keluar setelah komandan NII di Jawa Barat menikahi sembilan perempuan.

“Saya debat dia: apa dalil antum punya sembilan istri,” kata Kurnia, dalam dialog pelibatan sivitas akademika dalam pencegah terorisme, di gedung Rektorat Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (24/7/2019).

Sang komandan mengelak dan tak mau melayani perdebatan dengan Kurnia. Dia tahu Kurnia tak bisa diremehkan. “Dia juga tahu saya bisa buat bom. Belakangan dia terlibat kasus fa’i, istilahnya merampok orang kafir. Dia terlibat pencurian mobil,” katanya.

Tahum 2006, Kurnia bertemu dengan Aman Abdurrahman dalam sebuah pengajian. Kelak Aman dijadikan guru dan pemimpin kelompok ISIS di Asia Tenggara dan divonis hukuman mati akibat kasus pengeboman.

Aman disebut sang ideolog. Kendati berada di penjara, menurut Kurnia, dia bisa melakukan telekonferensi dan pengajian via ponsel. Berdasarkan penelitian Insep pada 2012, ada dua sumber pelaku pengeboman di Indonesia. Tahun 2000-2010, pelakunya Jamaah Islamiyah yang berafiliasi dengan Al Qaidah.

Kelompok ini hanya menjadikan kedutaan besar Barat dan tempat-tempat berkumpulnya orang Barat sebagai target pengeboman. Mereka tidak menyerang aparat pemerintah. Tahun 2014, ketika kekhilafahan Al Baghdadi di Irak dan Suriah (ISIS) diproklamasikan, Aman Abdurrahman mendirikan Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi ke sana.

Tahun 2010, NII Banten dan eks Jamaah Islamiyah mendirikan basis militer di Aceh. “Kami beli senjata di gudang Mabes Polri,” kata Kurnia.

Bagaimana bisa? Ternyata ada disertir polisi yang menjadi anggota mereka. “Dia melatih ikhwan (sebutan anggota laki-laki) menembak di Mako Brimob. Namanya Sofyan Tsauri,” kata Kurnia.

Namun gerakan mereka di Aceh diketahui aparat setelah awalnya masyarakat curiga bahwa yang berlatih adalah anggota Gerakan Aceh Merdeka. Kemudian mereka menyergap dan melucuti belasan orang anggota kepolisian sektor.

Kelompok ini nekat melakukan perlawanan terhadap polisi. Bahkan ada yany berusaha meledakkan Markas Komando Brimob namun berhasil dicegah aparat. “Kami diadili bukan nangis malah teriak takbir. Saya divonis enam tahun habis itu saya lempar kursi ke hakim,” kata Kurnia. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar