Peristiwa

Kejari Kabupaten Malang Tangkap Buronan Kasus Pencabulan Anak Dibawah Umur

Jaksa eksekutor pada Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang meringkus seorang buronan kasus pencabulan terhadap anak yang masih dibawah umur, Sabtu (16/1/2021)

Malang (beritajatim.com) – Jaksa eksekutor pada Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang meringkus seorang buronan kasus pencabulan terhadap anak yang masih dibawah umur, Sabtu (16/1/2021) pagi sekira pukul 07.00 wib.

Penangkapan itu sesuai dengan pelaksanaan eksekusi terhadap putusan Pengadilan Mahkamah Agung RI Nomor : 94 K/Pid.Sus/2019 Tanggal 15 April 2019 atas nama terpidana Abdur Rohman yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Kasie Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Sobrani Binzar yang memimpin langsung jalannya penangkapan, mengatakan, terhadap terpidana Abdur Rohman ini, terbukti secara sah melakukan tindak pidana “perlindungan anak” sebagaimana Pasal 81 Ayat (1), (2) Jo Pasal 76 D UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, dengan pidana penjara yang dijatuhkan selama 3 (tiga) tahun dan Denda sebesar Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) subsider 1 (satu) bulan kurungan.

“Terpidana kita tangkap di rumahnya di Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Selanjutnya kita lakukan pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan swab antigen pada RS Wava Husada Kepanjen. Terpidana kemudian kita masukkan ke dalam Lembaga Permasyarakatan kelas I lowokwaru Malang sekira pukul 10.00 WIB,” ungkap Sobrani, Sabtu (16/1/2021).

Kata dia, terpidana ini telah menjadi buronan Kejaksaan Negeri Kabuaten Malang selama satu tahun. Terhitung sejak Putusan Mahkamah Agung tersebut diatas memperoleh kekuatan hukum tetap, terpidana selalu berusaha bersembunyi dengan cara berpindah-pindah domisili di beberapa tempat.

Sobrani membeberkan, kasus ini berawal dari terpidana anak MS (dilakukan penuntuan secara terpisah), serta BA dan IM (masing-masing DPO), sekira bulan April 2017 bertempat di Jalan Sunan Bonang, Desa Bulupitu, Gondanglegi, memanggil korban berinisial SAS, untuk mendatangi rumah terpidana.

Namun, korban SAS menolaknya selanjutnya BA (DPO) menarik tangan korban SAS kedalam rumah pelaku atau terpidana. “Saat didalam rumah BA (DPO) bersama dengan MS, pelaku membekap mulut korban SAS dan membuka celana korban. Setelah itu datang terpidana bersama IM (DPO) dengan berkata “ayo gantian”, sehingga terpidana menyetubuhi korban SAS. Sementara BA (DPO) membekap mulut korban SAS dan hal tersebut dilakukan secara bergantian,” papar Sobrani.

Ia melanjutkan, pada saat terjadinya perbuatan tersebut, korban SAS masih berumur 12 (dua belas) tahun berdasarkan Kutipan Akta Kelahiran Disdukcapil Kabupaten Malang. “Saat kejadian, korban saat itu masih berumur 12 tahun,” Sobrani mengakhiri. (yog/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar