Peristiwa

Kehilangan 2 Kiai Panutannya, Bupati Lumajang Tulis Memoar

Lumajang (beritajatim.com) – Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengaku kehilang dua sosok kiai besar besar Lumajang, yakni KH. Adnan Syarif pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kiai Syarifuddin Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang dan KH. Khidir Fasa, pengasuh Ponpes Roudlotur Rokhmaniyah Suko.

Di akun facebook-nya, orang nomer satu di Lumajang ini menulis memoar. “Kyai ADNAN SYARIF dan Kyai KHIDIR FASA adalah orang tua saya. Sejak tadi malam, saat mendengar kepergian beliau, saya nangis, saya sangat kehilangan beliau berdua,” tulis Cak Thoriq, Selasa (24/11/2020).

Dia bercerita tentang KIai Adnan SyariF. Cak Thoriq pernah tidur bersam selama dua malam di ruang tamu kantor DPP PKB di Kalibata. Dia pernah mengajak ke kontrakannya tetapi kiai tidak berkenan, karena ingin segera bertemu Gus Dur. “Makan bareng nasi bungkus. Iya, waktu itu saat saya masih jadi Kepala Kantor (PKB,red),” ungkapnya.

Cak Thoriq mengaku sering bersenda gurau. Kiai Adnan juga memiliki beberapa harapan untuk pengembangan pesantren. Perjuangan Kiai Adnan untuk NU dan pesantren sungguh sangat bisa dirasakan masyarakat. “Panjenengan husnul khotimah kiai,” urainya.

Ceritaa soal Kiai Khidir Fasa, Cak Thoriq masih ingat betul saat kecil dulu di pesantren Denok, pondok anak-anak yang diasuh Kiai Sajadi Fadlillah, kakak beliau. Kiai Khidir selalu memberi nasehat ke Cak Thoriq yang masih anak-anak saat itu.

“Kamar kami sering disambangi, kadang saat makan beliau tiba-tiba datang dan bertanya, sudah berdoa apa belum..? Yang selalu teringat bagi kami para santri, saat beliau menjadi imam salat, persis baca Qur’annya seperti Koai Sajadi,” lanjutnya.

Karena itu kalau Cak Thoriq kangen Kiai Sajadi, dirinya selalu menyempatkan sowan ke Kiai Khidir. “Dan itu yang menjadikan saya juga selalu kangen ke Kiai Khidir. Saya masih simpan ijazah doa dari Kyai, hormat kami santri panjenengan. Saya yakin panjenengan husnul khotimah,” tutup Memoar Cak Thoriq. [har/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar