Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Kecelakaan Tidak Wajar, Polres Gresik Olah TKP di Jalan Raya Desa Tenaru

Satlantas polres Gresik sedang melakukan olah TKP di Jalan Raya Desa Tenaru Driyorejo Gresik

Gresik (beritajatim.com) – Polisi terus mendalami kasus kecelakaan yang menimpa SF (16) remaja asal Desa Petiken, Kecamatan Driyorejo, Gresik. Diduga remaja yang masih duduk di bangku SMP itu mengalami penganiayaan sebelum terjadi laka tunggal di Jalan Raya Desa Tenaru Driyorejo, Gresik hingga meninggal dunia.

Untuk mengungkap kasus tersebut, Unit Laka Satlantas Polres Gresik melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta memeriksa tiga orang saksi.

Selain memeriksa saksi, polisi juga mencari bukti pendukung yang mengarah pada asumsi pihak keluarga korban yang meyakini SF mengalami aksi pengeroyokan.

“Setelah dapat laporan adanya kecelakaan, kami kemudian mendatangi lokasi. Untuk olah TKP sudah dilakukan, namun saat ini sudah ditangani Unit Laka Satlantas Polres Gresik,” kata Kanit Lantas Polsek Driyorejo Ipda Tasmani, Senin (27/09/2021).

Selama proses penyelidikan, polisi telah meminta keterangan dari tiga orang saksi yang dinilai mengetahui kronologi peristiwa tersebut.

“Kami masih melakukan penyelidikan dan pendalaman. Belum bisa ditarik kesimpulan dan kasus ini telah ditangani Satlantas Polres Gresik,” ujar Kanit Laka Satlantas Polres Gresik, Ipda Suharto.

Perwira dengan satu balok di pundak itu juga terus berkoordinasi dengan Unit Reskrim Polsek Driyorejo. Guna mencari tahu kronologi pasti kecelakaan yang menelan korban jiwa tersebut.

“Mengenai apa ada unsur lain seperti yang diduga oleh pihak keluarga korban atau tidak. Mohon waktu agar kami bisa mengungkap sesuai fakta,” imbuh Suharto.

Seperti yang diberitakan, peristiwa kecelakaan tunggal yang meregang nyawa SF masih menjadi misteri. Pihak keluarga menyebut terdapat beberapa luka tidak wajar pada tubuh remaja 16 tahun asal Desa Petiken, Kecamatan Driyorejo itu. Baik luka memar pada bagian punggung maupun sabetan benda tajam di bagian leher korban.

Menurut paman korban Jainun, keponakannya itu menjadi korban tindak pidana. Baik aksi begal, premanisme, maupun pembunuhan berencana.

Pria 40 tahun itu mengatakan bahwa salah seorang rekan SF akan dimintai keterangan pada Rabu (29/9) mendatang. Dia berharap keterangan tersebut akan membantu mengungkap fakta di balik peristiwa tragis tersebut.

“Saya berharap segera ada titik terang penyebab pasti kematian keponakan saya,” tandasnya. [dny/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar