Peristiwa

Kecelakaan Kerja, Richo Minta Perusahaan Perhatikan Nasibnya

Malang (beritajatim.com) – Kecelakaan kerja yang dialami Richo Oktiyanto (36), warga Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang, harus menderita cacat seumur hidup.

Kulit kepala Richo mengelupas, serta salah satu jari tangannya harus diamputasi akibat kecelakaan kerja yang dialaminya pada, Kamis (18/10/2018) lalu.

“Saat itu saya mau pulang kerja. Biasanya memang ganti baju di belakang mesin laundry itu. Saat itu, pas mesin itu nyala, waktu itu juga rambut saya agak panjang, akhirnya ketarik. Rambut ini kegulung mesin, saya reflek, pegang rambut sampai jempol saya putus ini. Waktu kejadian itu saya masih sadar, dibawa ke rumah sakit itu saya sadar. Pertama ke RKZ, terus dirujuk ke Saiful Anwar,” ungkap Richo, menceritakan awal kejadian saat ditemui, Senin (10/2/2020).

Pasca peristiwa tersebut, Richo dirawat dua minggu di rumah sakit. Serangkaian operasi juga harus dilalui bapak dua anak ini.

“Baru pertama masuk rumah sakit itu operasi tangan sama kulit kepala. Karena kulit sama daging ini ngelupas. Terus bertahap, itu total sudah lima kali operasi. Terus tambal kulit tiga kali juga sudah, sama yang terakhir operasi daging yang tumbuh-tumbuh itu,” papar Richo.

Richo sendiri diketahui bekerja sebagai staf di PT KKS yang bergerak di bidang garmen dan beralamat di Kecamatan Sukun, Kota Malang. PT KKS diketahui merupakan bagian dari merek Jeans.

“Saya kerja mulai tahun 2011. Sampai awal 2018 masih buruh harian lepas. Baru diangkat staf Maret 2018, tapi tetap masih kontrak. Kontrak kerjanya ada,” tegasnya.

Pada awal mengalami kecelakaan kerja, Richo mengakui bahwa PT KKS masih bertanggung jawab.

“Yang pertama saja dibayari perusahaan, selama empat bulan itu pakai BPJS Mandiri. Selama saya sakit dikasih gaji full Rp 1,8 juta an itu, selama enam bulan. Sama diberi buat bayar BPJS selama satu tahun,” beber Richo.

Yang menjadi persoalan Richo selanjutnya bukan itu. Richo ingin nasibnya di perusahaan tersebut jelas. Pasalnya, pihak perusahaan pernah berjanji kepada Richo, saat dirinya sudah sembuh bisa kembali bekerja. Namun, hingga saat ini, hal tersebut belum juga terwujud.

“Katanya habis ini kan bisa kerja lagi. Saya kesana pas bulan Desember tahun lalu, tapi katanya tunggu, tunggu, tunggu pimpinan. Ya saya merasa digantung perusahaan. Saya kan bingung, kalau iya ya iya. Kalau tidak ya segera diberikan keputusan. Biar tidak menggantung. Kalau saya bisa sabar, tapi kan kebutuhan ini yang gak bisa sabar. Akhirnya ya sekarang istri saya yang pontang panting,” imbuhnya.

Atas persoalan yang dialaminya itu, Richo akhirnya memilih mengadu ke Dinas Tenaga Kerja Kota Malang. Sudah dua kali Richo ke Disnaker.

“Awal Januari saya lapor ke Disnaker. Kata Disnaker suruh tunggu dulu. Saya cuma minta hak saya saja. Kan Disnaker juga sudah jelaskan ke saya, kan itu seharusnya ada santunan, kalau di PHK kan ya ada pesangon. Saya mulai kerja memang gak UMK. Dari awal juga gak ada jaminan kesehatan. Safety-nya juga minim. Ada dikasih dua boks masker buat satu bulan, jadi ya anak-anak dibuat gantian,” pungkas Richo.

Sementara itu, saat awak media coba melakukan konfirmasi ke tempat Richo bekerja, tidak ada seorang pun dari jajaran manajemen yang bisa ditemui. Awak media hanya bertemu seorang petugas front office yang mengaku dirinya bernama Parno.

“Maaf mas, ini semuanya sedang keluar ke Pasuruan. Bisa tinggalkan nomor kontak atau pesan saja, nanti saya sampaikan,” katanya. (yog/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar