Peristiwa

Kecelakaan, Guru Honorer Jember Wafat Bersama Bayi dalam Kandungan

Jember (beritajatim.com) – Eni Wahyuni, seorang guru tidak tetap (GTT) atau guru honorer, meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya yang sudah berusia tujuh bulan, setelah mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju sekolah.

“Kejadiannya Rabu pagi kemarin (4/9/2019). Bu Eni berdomisili di daerah Desa Serut, Kecamatan Panti, yang mengajar di SDN Suci 05, Desa Suci, di sekitar perkebunan Gunung Pasang,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Kabupaten Jember Supriyono, Kamis (5/9/2019) pagi.

Semula berdasarkan surat penugasan yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Jember, Eni tidak mengajar di sana. Namun kemudian keluar surat penugasan baru yang mengharuskannya mengajar di SDN Suci 05 Kecamatan Panti.

“Suaminya menyampaikan kepada saya, meskipun medan menuju sekolah berkelok-kelok, Bu Eni merasa nyaman. Rabu pagi kemarin tak ada tanda-tanda apapun dari rumah. Beliau berangkat ke sekolah,” kata Supriyono.

Eni berangkat menggunakan sepeda motor dan berpapasan dengan truk. Dia kaget dan terjatuh. “Tapi tidak kena truk. Pertama kali helm masih lekat. Saat ‘mbanting’ keduanya ini sudah tanpa helm. Helm lepas. Kepalanya terbentur, sehingga Bu Eni dan bayinya tak terselamatkan,” kata Supriyono.

Kecelakaan yang dialami Eni ini memicu keprihatinan PGRI Jember, Jawa Timur. Sebelumnya, beberapa waktu lalu, ada guru tidak tetap dari Kecamatan Jenggawah yang meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan menuju sekolah di Kecamatan Jelbuk.

“Mereka ini serius melaksanakan tugas. Tak ada bedanya dengan PNS. Mereka membantu pemerintah daerah dalam rangka pelayanan pendidikan. Tapi kenapa sih pemerintah daerah masih bertahan, kesejahteraan mereka masih pada angka Rp 350 ribu atau Rp 700 ribu per bulan,” kata Supriyono.

“Kalau sudah seperti ini, kasihan sekali. Dengan kejadian ini kami berharap kepada pemerintah daerah karena GTT ini mem-back up kekurangan guru di Kabupaten Jember, kesejahteraannya (diperhatikan). Di (Kabupaten) Probolinggo sudah baik. Kenapa sih Jember tidak bisa seperti itu, sementara anggaran daerah silpa (ada sisa lebih, red),” kata Supriyono. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar