Peristiwa

Kasus Fetish Bungkus Membungkus: Unair Belum Terima Laporan di Tahun Sebelumnya

Suko Widodo

Surabaya (beritajatim.com) – Pelaku dugaan kasus Fetish Bungkus Membungkus atau Fetish Kain Jarik, yang berinisial G, merupakan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair). Dia dikabarkan telah melakukan hal serupa pada tahun 2018 lalu.

Hal itu dicuitkan oleh akun Twitter @representatif milik pria bernama Baskoro A.S. yang menyebutkan bahwa G telah dilaporkan melakukan hal serupa pada tahun 2018 bahkan juga diduga terjadi pada tahun 2016, dan telah diadukan pada Dekanat.

Terkait itu, Suko Widodo selaku Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) mengatakan bahwa kejadian tersebut tidak pernah dilaporkan secara resmi ke pihak Dekanat FIB. Selama ini kelakuan yang dirasa menyimpang, ditangani langsung oleh pihak BEM dan yang bersangkutan ‘G’.

“Kalau berdasarkan teman teman BEM, saat itu memang ada hal hal yang tidak lazim dilakukan. Itu saat ada kegiatan dalam sebuah dikepanitiaan, kemudian panitia sudah mengingatkan dan sudah menegur, kemudian mereka losing informasi dan yang bersangkutan jarang muncul bahkan selama 1 semester lalu dosen pembimbingnya juga kehilangan jejak, jadi skripsinya tidak ada perkembangan sama sekali,” ungkap Suko, Sabtu (1/8/2020) kepada beritajatim.com.

Suko menambahkan dalam alur kelembagaan formal, kasus pada tahun 2018 itu berakhir diinternal BEM fakultas. Sehingga sampai kasus ini menjadi viral pada 29 Juli 2020 kemarin, aduan resmi belum ada yang diterima oleh pihak Dekanat FIB.

Setelah merebaknya kasus ini, Hotline Help Center Unair baru 15 orang yang melapor. Menurut Suko laporan itu masih sebatas laporan riwayat chat dengan G.

“Di Help Center sudah ada sekitar 15 aduan, tapi masih sekedar ‘saya juga pernah punya di chat dikontak dengan alasan riset dan sebagainya, masih sampai mengirim riwayat chat chat an mereka. Dan dari situ kami akan menganalisanya,” pungkas Suko. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar