Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Juragan Sepatu Ditemukan Bunuh Diri, Calon Istrinya Bantah Minta Rp 17 Juta

Jasad korban yang pertama kali ditemukan di Makam Islam Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]

Mojokerto (beritajatim.com) – Andri Budi Santoso (46), juragan sepatu yang ditemukan bunuh diri di pusaran sang istri, Senin (20/6/2022) kemarin diduga karena depresi jelang pernikahan. Warga Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto bunuh diri menenggak racun tikus dan serangga karena kesulitan menyiapkan biaya pernikahan sebesar Rp17 juta.

Namun hal tersebut dibantah oleh calon istri jurangan sepatu, Fitryaningsih (30). Ditemui di rumah sang kakak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Fitri (panggilan akrab, red) menjelaskan, pihaknya tidak pernah meminta biaya pernikahan sebesar Rp17 juta, uang tersebut merupakan perkiraan biaya yang akan dikeluarkan.

“Rencana pernikahan permintaan saya sederhana tapi pihak laki-laki minta mewah. Biaya pernikahan Rp17 juta itu hasil rembukan saya dengan almarhum, masih perkiraan. Biaya Rp17 juta itu untuk dekorasi ruang tamu, orkes, makanan dan songgong (bingkisan tamu undangan). Angka itu pun dari almarhum, cukup ta Rp17 juta,” ungkapnya, Rabu (22/6/2022).


Janda satu anak ini menjelaskan, biaya pernikahan sebesar Rp17 juta tersebut tidak sepenuhnya ditanggung Andri. Fitri mengaku sudah menyerahkan uang pribadinya sebesar Rp2,5 juta kepada calon suaminya itu sekitar sebulan yang lalu karena Andri sanggup menyiapkan Rp15 juta. Sehingga total untuk biaya pernikahan sebesar Rp17 juta.

“Kemarin itu, saya minta uang saya yang sebelumnya saya kasihkan ke almarhum. Ya Rp2,5 juta itu karena sudah tinggal dua minggu. Saya tidak pegang yang sama sekali jadi rencana uang itu untuk belanja persiapan pernikahan. Saya juga menyarankan pernikahan biasa saja, hanya tumpengan, akad nikah, dia ngotot tidak mau, minta yang meriah,” katanya.

Fitri yang kini tinggal di Dusun Bacem, Desa Bening, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ini juga sempat memberi saran kepada Andri agar tanggal pernikahan diundur sambil menunggu calon suaminya tersebut mempunyai biaya. Namun juragan sepatu itu menolaknya. Menurutnya, sejak awal ia meminta kepada Andri agar pernikahan digelar sederhana.


“Dari awal saya menyarankan sederhana saja, akad nikah dan potong tumpeng, sudah. Karena saya orang tidak punya dan tidak punya orang tua. Saya tidak menekan dan saya tidak meminta. Sudah saya sampaikan ke almarhum, tapi dia ngotot ingin pernikahan meriah. Angka Rp17 juta itu perkiraan dan saya tidak membebankan ke pihak laki-laki semua,” ujarnya.

Ia menyadari statusnya sudah janda dan berasal dari keluarga pas-pasan. Fitri menampik jika dirinya maupun keluarganya dituding sebagai penyebab Andri nekat bunuh diri. Karena ia mengaku tidak pernah meminta maupun menekan calon suaminya itu untuk menggelar resepsi pernikahan yang meriah.

“Rencananya memang digelar jadi satu di sini tanggal 3 Juli itu. Saya tidak menekan dan saya tidak meminta. Permintaan saya pernikahan biasa saja, akad nikah, potong tumpeng sudah selesai. Sudah saya sampaikan ke almarhum, tapi dia ngotot ingin pernikahan meriah. Alasannya dia ingin mengundang temannya 150 orang, ada teman dekat, teman bisnis,” tuturnya.

Sebelumnya, Warga Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ditemukan tewas di pusaran sang istri di pemakaman desa setempat. Korban, Andri Budi Santoso (46) yang merupakan juragan sepatu ini diduga bunuh diri dengan menenggak racun tikus dan serangga karena depresi jelang pernikahan.

Korban ditemukan pertama kali oleh juru kunci Makam Umum Desa Gedeg, Bambang Utomo (52) sekira pukul 17.30 WIB. Saat itu, Bambang datang ke lokasi untuk menyalakan lampu makam. Namun melihat korban dengan posisi tengkurap menghadap ke barat persis di sebelah timur makam istrinya.

Sementara di sebelah tubuh korban ditemukan barang bukti berupa obat nyamuk merk Hit bentuk cair kemasan plastik dan racun tikus kemasan plastik. Badan korban tengkurap duduk bersila di atas makam mendiang istrinya, Sutiyaningsih. Istri korban meninggal karena Covid-19 pada 20 Juli 2021 lalu. [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar